JAKARTA | LINTASTIMOR.ID — Di tengah denyut kehidupan sederhana yang setia berdenyut di Stasi Motabuik, Paroki St.Antonius Padua Nela,Keuskupan Atambua suara palu dan doa berbaur menjadi satu.
Bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi sebuah perjalanan iman yang perlahan menjelma menjadi bangunan kokoh—75 persen telah berdiri, menyisakan harapan yang terus dikerjakan bersama.
Di bawah langit yang menjadi saksi, umat dari 11 lingkungan dengan 1.328 kepala keluarga menanamkan pengorbanan mereka, bukan hanya dalam bentuk tenaga, tetapi juga komitmen yang terukur dan terjaga. Setiap batu yang disusun adalah doa yang dipanjatkan dalam diam.
Ketua Panitia Pembangunan gereja Hendrikus Ati, melalui Bendahara pembangunan Gaspar Kopong Kelen,kepada Redaksi Lintastimor.id, Jakarta Minggu 22 Maret 2026 yang dihubungi di Atambua, menggambarkan perjalanan itu dengan nada yang tenang namun penuh keyakinan.
“Pembangunan, puji Tuhan, sudah mencapai 75 persen. Di Stasi Motabuik ada 11 lingkungan dengan jumlah 1.328 kepala keluarga. Setiap masa APP menjelang Paskah dan masa Adven menjelang Natal, umat secara rutin kerja bakti di gereja. Di luar masa itu, umat fokus bekerja, namun tetap memiliki tanggung jawab iuran pembangunan,” ujarnya.
Di balik angka-angka itu, tersimpan wajah-wajah pekerja keras—petani dan nelayan yang menyumbang Rp2 juta, hingga pegawai dan pengusaha yang memberi antara Rp2,5 juta sampai Rp3,5 juta, sesuai kemampuan. Tidak ada paksaan, hanya kesadaran kolektif bahwa rumah Tuhan dibangun dari hati yang rela.
“Kami menyusun rencana kerja bertahap. Dari Januari sampai Agustus difokuskan pada plester, pembuatan altar, lantai kasar, serta pemasangan kaca patri di altar dan menara. Sementara jendela dan pintu direncanakan dari September hingga Desember 2026,” jelasnya lagi.
Langkah-langkah itu disusun dengan kehati-hatian, mengikuti arus dana yang mengalir dari umat. Namun panitia tidak berhenti di situ. Mereka terus mengetuk pintu-pintu harapan lain, mengedarkan proposal, mengajak siapa saja yang tergerak untuk ikut ambil bagian.
“Kami menyesuaikan dengan dana yang masuk dari umat. Tapi kami juga tetap berupaya mencari dukungan dari luar agar pembangunan ini bisa terus berjalan,” tambahnya.
Secara kontekstual, apa yang terjadi di gereja Stasi Motabuik bukan sekadar pembangunan gereja, melainkan potret nyata dari kekuatan sosial berbasis iman di wilayah perbatasan. Ketika negara sering hadir dalam bentuk program, di sini umat hadir sebagai kekuatan mandiri—mengorganisir diri, membangun, dan menjaga harapan secara kolektif. Ini adalah model solidaritas yang hidup, bukan teori.
Pada akhirnya, bangunan itu kelak akan selesai. Dinding akan berdiri utuh, kaca patri akan memantulkan cahaya, dan lonceng mungkin akan berdentang memanggil umat. Namun lebih dari itu, yang sesungguhnya telah lebih dulu berdiri adalah iman yang tak retak—dibangun dari keringat, kesetiaan, dan cinta yang tak pernah surut.


















