Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

Energi dari Rakyat, Harapan untuk Negeri: Seruan Penghargaan di Tengah Ancaman Krisis Global

9
×

Energi dari Rakyat, Harapan untuk Negeri: Seruan Penghargaan di Tengah Ancaman Krisis Global

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA | LINTASTIMOR.ID — Di tengah bayang-bayang krisis energi global yang kian merapat, sebuah suara dari balik percakapan sederhana via telepon justru menggema lantang. Ia bukan sekadar opini, melainkan seruan moral yang memantik harapan: bahwa masa depan energi Indonesia bisa lahir dari tangan-tangan rakyatnya sendiri.

Dari bilangan Cijantung, diseru untuk mengambil langkah berani—memberikan penghargaan resmi kepada para inovator energi dari kalangan masyarakat pribumi. Mereka, yang selama ini bekerja dalam sunyi, dinilai layak berdiri di panggung negara.

Example 300x600

╔════════════════════════════════════════╗
“Dalam situasi krisis energi seperti saat ini, negara harus hadir memberi penghargaan kepada rakyatnya yang mampu menciptakan energi baru. Mereka adalah kekuatan sesungguhnya bangsa ini.”
╚════════════════════════════════════════╝

Pernyataan itu disampaikan , Pakar Hukum Pidana Internasional dan Ekonomi Nasional, saat menjawab pertanyaan Pemimpin Redaksi Lintastimor.id, Kamis (18/3/2026).

Menurutnya, inovasi energi tidak selalu lahir dari laboratorium besar atau korporasi raksasa. Justru, dari sekam padi hingga limbah plastik, masyarakat telah membuktikan bahwa kreativitas bisa menjelma menjadi solusi nyata.

╔════════════════════════════════════════╗
“Masyarakat yang mampu menciptakan bahan bakar dari sekam atau plastik harus didorong. Mereka bukan hanya penemu, tetapi calon penggerak ekonomi baru.”
╚════════════════════════════════════════╝

Gagasan itu tidak berhenti pada apresiasi semata. Ia menuntut keberanian kebijakan. Pemerintah, kata Nasomal, perlu membuka ruang legal melalui perizinan UMKM energi, agar inovasi rakyat tidak berhenti sebagai eksperimen, melainkan berkembang menjadi ekosistem usaha yang berkelanjutan.

Peran akademisi pun tak luput dari sorotannya. Kolaborasi antara kampus seperti dan diyakini mampu meningkatkan kualitas produksi energi alternatif berbasis masyarakat.

╔════════════════════════════════════════╗
“Jika setiap kabupaten memiliki lima gerai UMKM energi, Indonesia tidak akan pernah mengalami darurat bahan bakar.”
╚════════════════════════════════════════╝

Ia bahkan memproyeksikan dampak yang jauh lebih luas: lebih dari 50 juta tenaga kerja dapat terserap, mulai dari pengumpulan bahan baku hingga produksi energi siap pakai.

Analisis Kontekstual
Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan dampak konflik internasional terhadap rantai pasok energi, gagasan desentralisasi energi berbasis masyarakat menjadi semakin relevan. Ketika negara-negara bergantung pada impor dan fluktuasi harga, model energi lokal berbasis UMKM justru menawarkan ketahanan, kemandirian, dan pemerataan ekonomi. Namun, tantangan terbesar tetap pada regulasi, standarisasi, serta keberanian politik untuk mengakui inovasi akar rumput sebagai bagian dari arsitektur energi nasional.

Pada akhirnya, seruan ini bukan sekadar tentang energi—melainkan tentang keberpihakan. Tentang apakah negara berani melihat rakyatnya bukan sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek pencipta masa depan.

Dan di tengah sunyi kreativitas yang sering terabaikan, Indonesia seakan diingatkan kembali: bahwa cahaya energi sejati bisa saja lahir dari tangan-tangan yang selama ini luput dari sorotan.

Example 300250