MIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Asap tipis perlahan membumbung di Kampung Karang Senang, Distrik Kuala Kencana. Di tengah lingkaran masyarakat yang berkumpul dengan penuh keakraban, tradisi bakar batu digelar—sebuah simbol kebersamaan, syukur, dan persatuan masyarakat Papua.
Senin, 16 Maret 2026, halaman kediaman Kepala Distrik Hoeya, , menjadi tempat berkumpulnya masyarakat Hoeya bersama keluarga besar Tabuni–Wenda. Mereka datang tidak sekadar untuk menghadiri sebuah acara adat, tetapi juga untuk merayakan kabar yang membawa kelegaan bagi warga enam kampung di distrik tersebut.
Acara bakar batu ini digelar setelah keputusan rolling pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten pada 11 Maret 2026, di mana Bupati Mimika, , bersama Wakil Bupati Mimika, , kembali mempercayakan Yeteni Tabuni untuk tetap mengabdi sebagai Kepala Distrik Hoeya—sebuah keputusan yang sebelumnya diharapkan oleh masyarakat setempat.
Di tengah suasana kebersamaan itu, Kepala Suku Distrik Hoeya, , menyampaikan rasa terima kasih kepada pimpinan daerah yang telah mendengar aspirasi masyarakat.
╔════════════════════════════════════╗
“Terimakasih bapak Bupati dan Wakil Bupati yang telah menjawab keinginan masyarakat Distrik Hoeya untuk tetap mempertahankan kepala distrik,”
— Fransiskus Uamang, Kepala Suku Distrik Hoeya
╚════════════════════════════════════╝
Namun dalam kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan harapan masyarakat terkait posisi Sekretaris Distrik Hoeya, . Menurutnya, masyarakat menginginkan agar pejabat tersebut tetap dipertahankan.
╔════════════════════════════════════╗
“Sekretaris yang baru kami masyarakat tolak, karena kepala distrik Hoeya dan sekretaris distrik Hoeya dalam melaksanakan tugas selalu bersama-sama dengan masyarakat di kampung-kampung,” tegasnya.
╚════════════════════════════════════╝
Sementara itu, mewakili keluarga besar Tabuni–Wenda, menyampaikan pesan kepada masyarakat Distrik Hoeya agar tetap menjaga persatuan serta mengawal program pembangunan di kampung-kampung.
╔════════════════════════════════════╗
“Saya mewakili keluarga besar menitipkan anak kami kepada masyarakat Distrik Hoeya untuk tetap bersama menjaga kedamaian di kampung,” ungkap Enos Wenda.
╚════════════════════════════════════╝
Secara kontekstual, tradisi bakar batu di Papua bukan sekadar ritual makan bersama, tetapi juga ruang sosial tempat masyarakat menyatakan dukungan, memperkuat solidaritas, serta menyampaikan pesan politik dan sosial secara kolektif. Dalam konteks Distrik Hoeya, kegiatan ini sekaligus menjadi simbol dukungan masyarakat terhadap kepemimpinan lokal yang dinilai dekat dengan kehidupan kampung-kampung.
Di tengah bara batu yang perlahan mendingin sore itu, masyarakat Hoeya tidak hanya berbagi makanan. Mereka juga berbagi harapan—bahwa kepemimpinan yang dipercaya akan terus berjalan seiring dengan kedamaian, kebersamaan, dan pembangunan yang berpihak pada kampung-kampung di tanah Mimika.


















