ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID — Senja perlahan turun di Gedung Wanita Betelalenok, Atambua, Jumat (13/03/2026). Di ruang yang dipenuhi kehangatan itu, umat Muslim, tokoh agama, dan jajaran pemerintah daerah duduk berdampingan menanti waktu berbuka. Bukan sekadar berbagi hidangan Ramadhan, tetapi merawat satu nilai yang menjadi kekuatan wilayah perbatasan: toleransi.
Melalui agenda Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama, Pemerintah Kabupaten Belu kembali menegaskan komitmennya menjaga kerukunan antarumat beragama di wilayah yang dikenal sebagai Beranda Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kegiatan tersebut menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam merawat harmoni sosial di daerah perbatasan Indonesia–Timor Leste.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Belu, Haji Abdullah Belajam, S.Pd.I, menyampaikan apresiasi atas inisiatif pemerintah daerah yang dinilainya sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan.
“Kami merasa bangga dan bahagia. Ini adalah bentuk sinergitas nyata. Kami meyakini momentum di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini akan membawa keberkahan melimpah bagi Pemerintah Kabupaten Belu di bawah kepemimpinan Bapak Willy Lay dan Bapak Vicente Hornai,” ujar Haji Abdullah.
Ia juga menyampaikan bahwa hingga hari ke-23 Ramadhan, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Kabupaten Belu tetap kondusif. Kondisi tersebut memungkinkan umat Muslim menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk.
Menurutnya, kedamaian yang terjaga di wilayah perbatasan Belu diharapkan dapat menjadi “Cahaya Toleransi” bagi seluruh Indonesia.
Dalam kesempatan itu pula, terkait rencana pelaksanaan Sholat Idul Fitri, Ketua MUI Belu menyampaikan rencana penggunaan Pelataran Mal Pelayanan Publik (MPP) sebagai lokasi pelaksanaan ibadah.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Belu Willybrodus Lay secara resmi memberikan izin penggunaan pelataran Mal Pelayanan Publik yang baru selesai dibangun untuk pelaksanaan Sholat Idul Fitri mendatang.
Bupati menegaskan bahwa setiap infrastruktur yang dibangun pemerintah pada dasarnya diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat luas.
“Pemerintah juga mendukung rencana pawai malam takbiran keliling kota sebagai bagian dari syiar kemenangan,” ujar Bupati Willy Lay.
Lebih jauh, Bupati Willy Lay mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga dan memupuk nilai toleransi yang selama ini menjadi kekuatan utama Kabupaten Belu.
Ia menegaskan bahwa kerukunan antarumat beragama adalah fondasi penting bagi pembangunan daerah.
“Atas nama pemerintah, saya mengucapkan selamat menjalankan sisa ibadah puasa menuju hari kemenangan. Mari kita jaga kerukunan ini demi Indonesia yang lebih baik. Kebersamaan hari ini adalah wajah asli masyarakat Belu yang penuh toleransi,” pungkasnya.
Secara kontekstual, Kabupaten Belu yang berada di wilayah perbatasan Indonesia memiliki posisi strategis sebagai representasi wajah bangsa di gerbang negara. Karena itu, harmoni sosial dan toleransi antarumat beragama di daerah ini tidak hanya menjadi kebutuhan lokal, tetapi juga simbol penting bagaimana nilai persatuan Indonesia hidup di garis depan wilayah kedaulatan negara.
Di senja Ramadhan itu, saat azan magrib berkumandang dan tangan-tangan saling menyalami, pesan sederhana kembali menguat dari Beranda NKRI: bahwa keberagaman bukan sekadar fakta sosial, melainkan kekuatan yang menjaga Indonesia tetap utuh.


















