Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupPeristiwaPolkam

Bank Sampah Inauga Mulai Bergerak, Partisipasi Warga Masih Menunggu Kesadaran Bersama

32
×

Bank Sampah Inauga Mulai Bergerak, Partisipasi Warga Masih Menunggu Kesadaran Bersama

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Di sudut Kelurahan Inauga, Distrik Wania, sebuah gerakan kecil untuk menjaga lingkungan mulai berjalan. Bukan dengan alat berat atau proyek besar, tetapi dengan langkah sederhana: memilah sampah, menimbangnya, lalu mengubahnya menjadi nilai yang bermanfaat bagi kehidupan warga.

Sejak Januari 2026, Bank Sampah Inauga resmi beroperasi sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kabupaten Mimika. Program ini diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga melalui sistem tabungan berbasis sampah.

Example 300x600

Namun, setelah berjalan sekitar tiga bulan, program ini masih menghadapi tantangan utama: minimnya partisipasi masyarakat, yang sebagian besar disebabkan oleh terbatasnya informasi yang menjangkau seluruh warga.

Kepala Kelurahan Inauga, Gerson Rumbarar, menjelaskan bahwa sejak awal program dimulai, pemerintah kelurahan telah melakukan sosialisasi melalui berbagai kegiatan, termasuk kerja bakti rutin setiap hari Jumat.

Dalam kegiatan tersebut, warga diajarkan cara memilah sampah sebelum kemudian ditimbang di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Kelurahan Inauga.

“Setiap sampah yang ditimbang akan dicatat poinnya. Jika poin sudah terkumpul cukup, warga bisa menukarnya dengan sembako seperti beras, minyak goreng, supermi, kopi, susu, sabun, kecap, saos, dan kebutuhan pokok lainnya,” jelas Gerson Rumbarar.

Melalui sistem ini, sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai justru dapat menjadi tabungan kebutuhan rumah tangga bagi masyarakat.

Namun Gerson mengakui, hingga kini program tersebut belum berjalan maksimal. Banyak warga yang masih belum mengetahui keberadaan bank sampah tersebut.

Informasi mengenai program ini sejauh ini lebih banyak menyebar melalui kegiatan kerja bakti serta dari mulut ke mulut, terutama ketika warga datang ke kantor kelurahan untuk mengurus berbagai dokumen administrasi.

“Sampai sekarang masih banyak warga yang belum tahu. Kami terus melakukan sosialisasi pelan-pelan, tapi terbatas personel. Kami butuh dukungan dari tim Dinas Lingkungan Hidup untuk turun langsung mendampingi masyarakat,” tambahnya.

Data kelurahan mencatat, sejak Januari hingga Maret 2026, baru 28 nasabah aktif yang terdaftar mengumpulkan sampah melalui bank sampah tersebut.

Pekan lalu, program ini baru berhasil melakukan satu kali pengangkutan sampah dengan total berat sekitar 80 kilogram, yang terdiri dari sampah plastik dan kaleng aluminium.

Meski jumlahnya masih kecil, langkah ini menjadi awal dari sebuah gerakan perubahan yang diharapkan dapat berkembang lebih luas di tengah masyarakat.

Secara kontekstual, program bank sampah merupakan salah satu pendekatan penting dalam pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi masyarakat. Keberhasilannya tidak hanya bergantung pada sistem pengelolaan, tetapi juga pada tingkat kesadaran warga untuk melihat sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang dapat memberi nilai ekonomi sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.

Karena itu, di balik tumpukan plastik dan kaleng yang mulai terkumpul di Bank Sampah Inauga, tersimpan harapan sederhana: bahwa suatu hari nanti, kesadaran masyarakat akan tumbuh bersama—mengubah sampah yang dulu diabaikan menjadi bagian dari gerakan kecil menjaga bumi tempat mereka hidup.

Example 300250