MAPPI | LINTASTIMOR.ID-Pagi di halaman TK Pembina Emete terasa berbeda dari biasanya. Tawa anak-anak yang riang tiba-tiba bercampur dengan rasa penasaran ketika dua sosok berseragam cokelat datang menyapa. Bukan untuk menegakkan hukum seperti yang sering mereka dengar, melainkan untuk mengajak bermain, bercerita, dan memperkenalkan wajah polisi yang ramah bagi anak-anak.
Kamis, 12 Maret 2026, personel Sat Binmas Polres Mappi bersama Bhabinkamtibmas Kampung Emete menggelar kegiatan “Polisi Sahabat Anak.” Kedatangan Bripka David Louis Elly dan Aipda I Nengah Sudarpa, S.H. langsung disambut antusias oleh puluhan murid yang berlarian mendekat, sementara para guru tersenyum menyaksikan interaksi yang hangat itu.
Dalam suasana santai dan penuh keceriaan, para petugas berusaha menanamkan satu pesan sederhana namun penting: polisi bukan sosok yang harus ditakuti.
Anak-anak diajak mengenal polisi sebagai pelindung dan pelayan masyarakat yang bertugas menjaga keamanan serta ketertiban lingkungan.
Suasana semakin hidup ketika para siswa diperkenalkan dengan berbagai atribut kepolisian yang oleh anak-anak disebut sebagai “alat sakti polisi.” Seragam, borgol, hingga peluit diperlihatkan satu per satu. Mata para murid berbinar saat mereka mendengarkan penjelasan tentang fungsi alat-alat tersebut dalam tugas kepolisian di lapangan.
Tidak hanya itu, edukasi tentang keselamatan diri juga disisipkan dalam bentuk cerita dan permainan sederhana. Anak-anak diingatkan untuk selalu tertib saat beraktivitas, termasuk pentingnya menggunakan helm saat berkendara, tidak ugal-ugalan di jalan, serta mematuhi rambu lalu lintas.
Dalam kesempatan itu, Aipda I Nengah Sudarpa menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Polres Mappi untuk membangun karakter anak sejak usia dini.
╔════════════════════════════════╗
“Dengan metode belajar sambil bermain, kami berharap pesan-pesan kamtibmas bisa mudah dipahami dan diingat oleh anak-anak,” ujar Aipda I Nengah Sudarpa.
╚════════════════════════════════╝
Bagi pihak sekolah, kehadiran polisi di ruang belajar anak-anak bukan sekadar kunjungan biasa. Para guru menilai kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi para murid untuk mengenal aparat negara dari sudut pandang yang lebih humanis.
Kegiatan pun ditutup dengan sesi foto bersama—anak-anak berjejer di depan para polisi, sebagian masih memegang peluit kecil yang baru saja mereka lihat dengan penuh rasa ingin tahu.
Secara kontekstual, program Polisi Sahabat Anak merupakan pendekatan preventif yang semakin relevan di tengah upaya membangun budaya hukum sejak usia dini. Dengan menghadirkan polisi sebagai figur ramah di ruang pendidikan, institusi kepolisian tidak hanya memperkenalkan profesi, tetapi juga menanamkan nilai disiplin, rasa aman, dan kepercayaan masyarakat terhadap aparat sejak masa kanak-kanak.
Di halaman kecil TK Pembina Emete pagi itu, seragam cokelat tidak lagi sekadar simbol penegakan hukum. Ia menjelma menjadi tanda persahabatan—sebuah pesan sederhana bahwa keamanan negara juga bisa dimulai dari tawa anak-anak yang merasa aman di dekat polisi.


















