MAKASSAR |LINTASTIMOR.ID— Pagi yang tegas menyelimuti Lapangan Apel Mapolda Sulawesi Selatan. Barisan seragam cokelat berdiri rapi, senjata-senjata negara diperiksa dengan cermat, sementara langkah para personel Brimob yang baru kembali dari medan tugas kemanusiaan di Aceh disambut dengan penghormatan.
Di tengah suasana yang khidmat itu, Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H. memimpin langsung Apel Pengecekan Senjata Api (Senpi) serentak di jajaran Polda Sulsel, Senin (09/03/2026), sekaligus menyambut kepulangan personel Satuan Brimob Polda Sulsel yang telah menuntaskan tugas dalam Operasi Aman Nusa II sebagai Bantuan Kendali Operasi (BKO) di Polda Aceh.
Apel tersebut diikuti Wakapolda Sulsel Brigjen Pol. Nasri, S.I.K., M.H., para Pejabat Utama Polda Sulsel, serta seluruh personel jajaran yang memenuhi lapangan apel dengan sikap tegap dan penuh disiplin.
Bagi Kapolda Sulsel, apel ini bukan sekadar rutinitas organisasi. Ia adalah momentum konsolidasi — saat seluruh kekuatan institusi kembali disatukan, diperiksa, dan diteguhkan.
Dalam arahannya, Kapolda menekankan pentingnya memastikan kesiapan institusi kepolisian, tidak hanya dari sisi sumber daya manusia, tetapi juga dari kelengkapan sarana dan prasarana pendukung tugas.
Namun satu pesan disampaikan dengan nada yang lebih dalam dan menyentuh kesadaran moral para anggota.
“Senjata api bukanlah simbol kekuasaan atau gagah-gagahan. Senjata api adalah instrumen hukum yang diberikan negara kepada Polri untuk menegakkan keadilan dan melindungi nyawa manusia.”
— Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro
Kapolda menjelaskan bahwa pengecekan senjata api dilakukan secara menyeluruh, mencakup tiga aspek utama: administrasi kepemilikan, kelayakan teknis senjata, serta kondisi moral dan psikologis personel yang memegangnya.
Pesan itu kemudian dipertegas dengan kalimat yang menggema di tengah barisan.
“Gunakan akal sehat dan nurani sebelum menggunakan jari telunjukmu di atas pelatuk.”
— Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro
Pada kesempatan yang sama, Kapolda juga memberikan penghormatan kepada personel Satuan Brimob Polda Sulsel yang baru saja kembali dari Provinsi Aceh setelah menjalankan tugas kemanusiaan selama kurang lebih dua bulan dalam rangka Operasi Aman Nusa II.
Ia menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan pengabdian para personel yang telah membantu masyarakat Aceh menghadapi dampak bencana.
“Atas nama pimpinan Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh personel yang telah melaksanakan tugas dengan penuh dedikasi, disiplin, serta semangat pengabdian yang tinggi dalam membantu masyarakat di wilayah Provinsi Aceh.”
Menurut Kapolda, tugas kemanusiaan bukanlah pekerjaan ringan. Selain kesiapan fisik dan mental, tugas itu juga menuntut keikhlasan, empati, dan solidaritas terhadap masyarakat yang sedang berada dalam kesulitan.
Ia berharap pengalaman yang diperoleh para personel selama bertugas di Aceh dapat menjadi bekal penting untuk meningkatkan profesionalisme, memperkuat solidaritas antar anggota, serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi berbagai situasi darurat di masa mendatang.
Secara kontekstual, kegiatan ini menunjukkan upaya serius institusi kepolisian dalam menjaga akuntabilitas penggunaan senjata api sekaligus memperkuat orientasi kemanusiaan dalam tugas-tugas kepolisian. Di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap penggunaan kekuatan oleh aparat, penegasan nilai moral dalam penggunaan senjata menjadi pesan penting bagi profesionalisme Polri.
Di bawah langit Makassar pagi itu, pesan Kapolda Sulsel terasa sederhana namun mendalam: bahwa di balik setiap senjata yang dipegang aparat negara, ada tanggung jawab besar untuk menjaga kehidupan — bukan sekadar menegakkan kekuasaan.


















