Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupPeristiwaPolkam

Dari Altar ke Ladang: Stella Maris Atapupu Menyalakan Etos Kerja Petani Belu

81
×

Dari Altar ke Ladang: Stella Maris Atapupu Menyalakan Etos Kerja Petani Belu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID — Di tengah hamparan ladang kacang tanah dan jagung yang menguning di Desa Kenebibi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, perbatasan RI – Timor Leste, dukungan moral Gereja hadir bukan sekadar dalam doa, tetapi juga dalam dorongan etos kerja yang konkret.

Dari altar Paroki Stella Maris Atapupu, Keuskupan Atambua, semangat itu digaungkan untuk menguatkan para petani agar bekerja dengan fokus, tuntas, dan cerdas demi kesejahteraan bersama.

Example 300x600

Pastor Paroki Stella Maris Atapupu, Rm. Gregorius Sainudin Dudy, Pr, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap keberhasilan Kelompok Tani Kun Bot Indah dalam mengelola pertanian kacang tanah dan jagung.

Menurutnya, capaian tersebut bukan hanya hasil kerja teknis, tetapi buah dari komitmen dan ketekunan yang patut dijaga.

Dalam sambutannya, Pastor Gregorius menekankan bahwa keberhasilan pertanian sangat ditentukan oleh mental dan karakter kerja para petani. Ia mengingatkan pentingnya bekerja dengan kesungguhan dan integritas.

“Fokus sebagai petani sungguh-sungguh, jangan main-main. Bekerja seperti hamba, nanti hasilnya akan dinikmati seperti raja. Dukungan Gereja kuat untuk menumbuhkan etos kerja dan mental kerja yang bagus, sehingga setiap usaha yang dilakukan dapat membuahkan hasil optimal,” tegasnya, Rabu (04/03/2026).

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa hasil pertanian tidak boleh berhenti pada kepentingan individu semata. Bagi Gereja, keberhasilan ladang adalah bagian dari misi sosial yang lebih luas: meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan umat di Kabupaten Belu.

“Gereja selalu siap bersinergi dengan pemerintah dan budaya lokal. Kita ingin mendukung, mendorong, dan meningkatkan hasil produksi pertanian di Kabupaten Belu yang kita cintai bersama,” tambahnya.

Dalam konteks daerah perbatasan seperti Belu, sektor pertanian bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga penopang stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Dukungan moral dari institusi keagamaan menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun kepercayaan diri petani, memperkuat solidaritas komunitas, serta mendorong kemandirian pangan di tingkat lokal.

Pada akhirnya, ketika doa bertemu dengan kerja keras, dan semangat rohani menyatu dengan ketekunan di ladang, maka pertanian bukan lagi sekadar aktivitas ekonomi—melainkan gerakan bersama untuk memuliakan kehidupan dan menumbuhkan harapan di tanah perbatasan.

Example 300250