Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

Kota Atambua Tak Mau Lagi Jadi Kota Biasa: Dari Beranda Sunyi Menuju Panggung Internasional

56
×

Kota Atambua Tak Mau Lagi Jadi Kota Biasa: Dari Beranda Sunyi Menuju Panggung Internasional

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID — Kala itu, di Aula Gedung Wanita Betelalenok, mimpi tentang sebuah kota dibentangkan di atas meja-meja diskusi. Bukan mimpi kecil. Bukan pula sekadar proyek tahunan. Yang dibicarakan adalah masa depan Atambua—sebuah kota di bibir negeri yang ingin berdiri tegak sebagai wajah Indonesia di perbatasan.

Bupati Belu, Wilybrodus Lay, S.H secara resmi membuka Focus Group Discussion (FGD) Perencanaan Masterplan Pengembangan Kawasan Perkotaan Atambua, Selasa (03/03/2026). Di hadapan Forkopimda, akademisi, tokoh adat, hingga pelaku usaha, ia meletakkan satu kalimat kunci: Atambua harus bertransformasi.

Example 300x600

Tim perencana dari (UGM) dihadirkan untuk mendampingi Pemerintah Kabupaten Belu menyusun desain besar pengembangan kota yang berbatasan langsung dengan Timor Leste itu.

╔════════════════════════════════════╗
“Kita ingin Kota Atambua tidak lagi menjadi kota biasa.
Kita harus desain dari sekarang supaya menjadi
kota internasional perbatasan yang membanggakan
sebagai beranda NKRI.”

╚════════════════════════════════════╝

Di luar gedung, Atambua tetap berjalan seperti biasa—kendaraan melintas, pedagang membuka lapak, anak-anak pulang sekolah. Namun di dalam ruangan itu, arah sejarah sedang dirumuskan.

Ring Road dan Disiplin Tata Kota

Bagi Willy Lay, membangun kota bukan sekadar menambah beton dan aspal. Ia berbicara tentang ring road—jalan lingkar luar yang bukan hanya memecah kemacetan, tetapi mengendalikan pertumbuhan permukiman dan menata ruang secara visioner.

╔════════════════════════════════════╗
“Ring road itu bukan sekadar jalan.
Itu untuk mengatur tata kota supaya masyarakat
tidak membangun rumah sembarangan
dan kota kita tertata dengan baik.”

╚════════════════════════════════════╝

Dalam imajinasinya, Atambua bukan lagi kota yang tumbuh tanpa arah, melainkan kota yang dirancang dengan disiplin ruang dan keberanian estetika.

Taman Kota dan Identitas Modern

Ia juga menyinggung ruang terbuka hijau sebagai identitas kota modern. Relokasi kantor PU dan PDAM dilakukan demi menghadirkan taman kota yang representatif—ruang publik yang menjadi kebanggaan bersama.

╔════════════════════════════════════╗
“Salah satu ciri utama kota itu adalah taman.
Kalau kita ke luar negeri atau ke Timor Leste,
mereka punya taman yang bagus.
Kita juga harus punya taman yang menjadi kebanggaan masyarakat.”

╚════════════════════════════════════╝

Di kota perbatasan, taman bukan sekadar tempat duduk sore. Ia adalah simbol: bahwa Indonesia hadir dengan wajah yang rapi, hijau, dan berkelas.

Kota Festival di Bibir Selat Ombai

Laut pun masuk dalam peta mimpi. Selat Ombai, dengan lintasan marlin, tuna, dan cakalang, disebut sebagai potensi maritim yang belum sepenuhnya digarap. Willy Lay membayangkan Atambua sebagai kota festival dan sport tourism, menghidupkan kembali euforia fishing tournament yang pernah mendapat respons besar.

╔════════════════════════════════════╗
“Kita punya potensi besar di laut.
Kalau dikelola dengan baik,
Atambua bisa dikenal sebagai kota festival
dan sport tourism.”

╚════════════════════════════════════╝

Bandara, Pelabuhan, dan Gerbang Perdagangan

Sorotan juga diarahkan pada yang pernah menjadi titik persinggahan penerbangan menuju Darwin. Bupati berharap ke depan bandara ini tak hanya melayani pesawat kecil, tetapi juga berbadan besar.

Sementara itu, dan menjadi simpul strategis perdagangan Indonesia–Timor Leste yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah per tahun. Semua itu, menurutnya, harus diintegrasikan dalam satu visi besar.

Bahkan peluang Blok Migas Masela pun disebut. Jika beroperasi, Belu harus siap menjadi kota logistik pendukung—posisi geografisnya terlalu strategis untuk diabaikan.

Desain Orisinal untuk Kota Perbatasan

Ketua Perencana UGM, Dr. Ir. Arif Kusumawanto, MT, IAI, IPU, menjelaskan bahwa diskusi akan dibagi ke dalam empat kelompok tematik: arsitektur kota, pengembangan wilayah, ekonomi wilayah, dan sosial budaya.

╔════════════════════════════════════╗
“Kami ingin semua ide yang muncul benar-benar orisinal.
Nanti akan kami analisis untuk merumuskan
desain terbaik bagi Kota Atambua.”

╚════════════════════════════════════╝

Di ujung forum, para tokoh masyarakat, pimpinan OPD, BUMN/BUMD, akademisi, hingga Ketua HIPMI Cabang Belu duduk bersama. Tidak ada sekat politik, tidak ada batas sektoral—yang ada hanya satu pertanyaan besar: seperti apa wajah Atambua 20 tahun ke depan?

Siang merambat sore. Diskusi mungkin akan berakhir, tetapi gagasan telah terlanjur dilepaskan ke udara. Atambua tak lagi ingin dikenang sebagai kota sunyi di tapal batas. Ia sedang menyiapkan diri—pelan, terukur, dan penuh kesadaran—untuk menjadi panggung internasional di beranda negeri.

Example 300250