Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaKabupaten MimikaNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

Jangan Cabut Akar yang Sedang Tumbuh: Suara Hoeya Menggema Menolak Pergantian Kepala Distrik

78
×

Jangan Cabut Akar yang Sedang Tumbuh: Suara Hoeya Menggema Menolak Pergantian Kepala Distrik

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Di tanah yang jauh dari gemerlap kota, di antara sunyi lembah dan jalur penerbangan kecil yang baru dirintis, suara itu lahir dari keresahan. Hoeya tidak sedang meminta banyak—mereka hanya ingin kesinambungan.

MIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Pagi di Distrik Hoeya selalu datang pelan. Kabut tipis menggantung di antara bukit-bukit, dan jalanan tanah menyimpan jejak langkah pembangunan yang masih muda. Di tempat inilah, suara penolakan terhadap isu pergantian kepala distrik bergema.

Example 300x600

Adalah Izak Jawame, intelektual Distrik Hoeya, yang berdiri mewakili suara masyarakat. Dengan nada tegas namun sarat harap, ia meminta kepada Bupati Mimika, dan Wakil Bupati Mimika, , untuk tidak menggantikan Kepala Distrik Hoeya, Yeteni Tabuni, dalam rencana rolling jabatan yang dikabarkan akan dilakukan dalam waktu dekat.

Rumor itu, kata Izak, telah berembus hingga ke kampung-kampung, menyisakan kegelisahan.

Sejak dilantik pada 4 Desember 2024, menurutnya, Yeteni Tabuni bukan sekadar pejabat administratif. Ia hadir sebagai figur yang turun langsung melihat kondisi masyarakat. Pembangunan rumah layak huni mulai berdiri. Bandara dirintis sebagai urat nadi keterhubungan. Puskesmas diperkuat. Pendidikan disentuh. Program-program berjalan dengan irama yang, untuk ukuran Hoeya, terasa cepat dan nyata.

Hoeya merasakan perubahan itu.

╔══════════════════════════════════╗
“Bapa Bupati dan Bapa Wakil Bupati,
Kepala Distrik Hoeya kerja baik.
Ia turun langsung melihat kondisi masyarakat.
Sangat berbeda dengan sebelumnya.
Jadi jangan diganti.”

╚══════════════════════════════════╝

Kalimat itu meluncur dari Izak Jawame dengan suara yang tak bergetar. Bukan sekadar pernyataan, melainkan penegasan atas rasa memiliki.

Ia menjelaskan, sejumlah program kerja telah selesai tepat waktu. Sebagian lagi sedang berjalan dan membutuhkan kesinambungan kepemimpinan. Pergantian, menurutnya, bukan hanya soal jabatan, melainkan soal arah pembangunan yang sedang bertumbuh.

Hoeya bukan wilayah yang mudah dijangkau. Setiap kebijakan yang konsisten adalah energi. Setiap perubahan kepemimpinan adalah jeda yang berisiko mengubah ritme.

╔══════════════════════════════════╗
“Pergantian kepala distrik akan memengaruhi
program yang sedang berjalan.
Kami ingin program yang sudah dirintis
diselesaikan dengan baik.”

╚══════════════════════════════════╝

Di balik pernyataan itu, tersimpan kecemasan yang sederhana: jangan hentikan langkah yang sedang menuju terang.

Bagi masyarakat Hoeya, kepala distrik bukan hanya administrator, tetapi jembatan antara aspirasi kampung dan kebijakan kabupaten. Ketika jembatan itu mulai kokoh, mereka berharap ia tidak dibongkar sebelum waktunya.

Kini, suara itu telah disampaikan. Hoeya menunggu jawaban.

Di lembah yang jauh dari pusat pemerintahan, masyarakat hanya ingin satu hal: pembangunan yang berlanjut tanpa dipatahkan oleh rotasi yang tergesa.

Karena di Hoeya, setiap fondasi yang baru ditanam, membutuhkan waktu untuk benar-benar mengakar.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe