Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupHiburanOtomotifPeristiwa

Di Antara Deru Mesin dan Kumandang Adzan, Takjil Itu Datang Sebagai Doa

71
×

Di Antara Deru Mesin dan Kumandang Adzan, Takjil Itu Datang Sebagai Doa

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PAPUA TENGAH | LINTASTIMOR.ID — Senja turun perlahan di atas langit Nabire dan Timika. Cahaya keemasan memantul di atas tangki-tangki kendaraan yang berbaris rapi di halaman SPBU. Mesin-mesin masih meraung pelan, tetapi di sela deru itu, ada yang lebih sunyi: penantian akan adzan Maghrib.

Di sudut halaman SPBU, beberapa petugas berdiri dengan senyum yang teduh. Di tangan mereka, bungkusan kecil berisi air mineral dan makanan ringan. Tak besar, tak mewah. Namun di bulan suci, yang kecil bisa menjadi sangat berarti.

Example 300x600

Ramadhan 1447 Hijriah tiba membawa aroma rahmat. Dan di jalan-jalan Papua Tengah, rahmat itu hadir dalam bentuk sederhana: takjil gratis bagi mereka yang masih dalam perjalanan.

Nampak seorang pengendara motor berhenti sejenak. Wajahnya lelah, helmnya masih terpasang. Ketika petugas menyerahkan satu paket takjil, ia tersenyum, menunduk kecil.

“Terima kasih, Pak… ini sangat membantu,” ucapnya lirih.

Di balik kesibukan pengisian bahan bakar, ada denyut kemanusiaan yang terasa hangat.

Program MyPertamina Berbagi Ramadan yang digelorakan Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku melalui Sales Area Papua Tengah bukan sekadar agenda korporasi. Ia menjelma menjadi sentuhan yang membumi—hadir di antara debu jalanan, lampu kendaraan, dan detik-detik menuju waktu berbuka.

Sales Area Manager (SAM) Retail Papua Tengah, Warih Wibowo, berdiri tak jauh dari pembagian takjil. Sorot matanya mengikuti satu per satu pengendara yang menerima bingkisan kecil itu.

Dalam suaranya yang tenang, ada niat yang terasa tulus.

╔══════════════════════════════════╗
“Kami memahami, ada saudara-saudara kita yang masih berada di perjalanan saat adzan Maghrib berkumandang. Jangan sampai mereka berbuka dalam kegelisahan. Biarlah takjil kecil ini menjadi penenang, agar ibadah mereka tetap khusyuk dan perjalanan mereka tetap selamat.”
╚══════════════════════════════════╝

Setiap hari, sedikitnya 50 paket takjil disiapkan dan dibagikan secara bergilir di sejumlah SPBU di Nabire dan Timika.

Di Nabire, pembagian dilakukan di empat titik:
SPBU Jl. Yos Sudarso (Senin & Kamis),
SPBU Jl. Poros Wonorejo (Selasa & Jumat),
SPBU Jl. Jend. Sudirman (Rabu & Sabtu),
dan SPBU Jl. Poros Samabusa Kimi (Minggu).

Sementara di Timika, enam SPBU menjadi titik berbagi:
Jl. Yos Sudarso–Sempan (Senin),
Jl. Nawaripi (Selasa & Minggu),
Jl. Cenderawasih SP2 (Rabu),
Jl. Hasanudin (Kamis),
Jl. Mapuru Jaya Km 8 (Jumat),
dan SPBU SP3 (Sabtu).

Takjil itu mungkin hanya air mineral dan kudapan ringan. Tetapi bagi mereka yang menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, ia menjadi penanda kasih—bahwa di tengah kesibukan dunia, ada tangan-tangan yang masih sempat berbagi.

Langit makin temaram. Kumandang adzan akhirnya pecah di udara Papua. Beberapa pengendara menepi, membuka bungkus kecil itu dengan hati-hati. Ada yang mengangkat tangan berdoa sebelum meneguk air pertama.

Di momen itu, SPBU bukan sekadar tempat mengisi bahan bakar. Ia berubah menjadi ruang singgah spiritual—tempat energi tak hanya mengalir ke kendaraan, tetapi juga ke jiwa-jiwa yang sedang berpuasa.

Warih kembali mengingatkan masyarakat agar tetap tertib dan mengutamakan keselamatan saat memasuki area SPBU.

Namun sore itu, yang paling terasa bukanlah imbauan formal—melainkan suasana kebersamaan yang hening dan syahdu.

Di antara deru mesin dan aroma bahan bakar, Ramadhan membuktikan dirinya: bahwa berkah bisa hadir di mana saja. Bahkan di jalanan yang tak pernah benar-benar sepi.

Dan ketika malam akhirnya turun sempurna, yang tertinggal bukan hanya lampu kendaraan yang menyala—melainkan rasa bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya.

 

Example 300250