Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupOtomotifPeristiwaPolkam

Banjir dan Derap Tanggung Jawab: Patwal Terhempas, Pemimpin Tak Surut”

126
×

Banjir dan Derap Tanggung Jawab: Patwal Terhempas, Pemimpin Tak Surut”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KUPANG | LINTASTIMOR.ID — Deru air terdengar lebih dulu sebelum terlihat. Di Crossway Kali Siumate Kecil, Desa Naitae, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat siang itu, langit menggantungkan awan berat seperti menahan sesuatu yang segera pecah. Dalam hitungan detik, arus datang tak terduga—menggulung, mengangkat, lalu menghempaskan.

Mobil Patwal Satpol PP Pemerintah Kabupaten Kupang yang tengah melakukan pengawalan pemantauan infrastruktur mendadak terseret. Tiga orang di dalamnya—Wali Pratama, seorang fotografer, dan sopir—hanyut sejauh kurang lebih 500 meter sebelum kendaraan itu tersangkut pada sebatang pohon kecil di tengah kali.

Example 300x600

Mereka selamat.

Dan keselamatan itu hanya dipisahkan oleh beberapa detik dari kemungkinan yang jauh lebih kelam—karena tepat di belakangnya, kendaraan DH 1 B yang ditumpangi Bupati Kupang hampir saja mengalami nasib serupa.

Di tengah cuaca ekstrem dan risiko banjir musiman, tetap memilih turun langsung ke lokasi. Bersama Kepala Dinas PUPR Tonci Teuf dan Kasat Satpol PP Adi Lona, ia menyusuri jalur yang bagi sebagian orang mungkin lebih aman hanya dilihat dari laporan meja kerja.

Namun bagi Bupati Kupang Yosef Lede, laporan tak cukup.

Ia ingin melihat sendiri retakan jembatan, jalan yang tergerus, dan titik-titik yang selama ini menjadi keluhan masyarakat Fatuleu Barat hingga Amfoang.

╔════════════════════════════════════╗
“Kehadiran saya di tengah cuaca ekstrem bukan untuk mencari sensasi,
tetapi untuk memastikan akses masyarakat tidak terputus oleh kelalaian kita.
Jalan dan jembatan adalah nadi kehidupan,”ucap Bupati Yosef.

╚════════════════════════════════════╝

Di lokasi, air bukan sekadar banjir. Ia membawa lumpur, potongan kayu, dan suara gemuruh yang memantul di dinding tebing sungai. Kali Noelbisnaen di Desa Siumolo dan Kali Siumate sedang dalam kondisi tak bersahabat. Abrasi menggerogoti bibir sungai. Badan jalan terancam runtuh.

Beberapa warga berdiri di tepi, menyaksikan rombongan pemerintah datang bukan dengan seremoni, tetapi dengan sepatu berlumpur.

Sebelum ke Fatuleu Barat, Bupati telah memantau bendung dan sarana irigasi di Kupang Timur dan Sulamu. Ia tahu betul keterbatasan fiskal daerah. Anggaran tak selalu sebanding dengan kebutuhan.

Namun di balik keterbatasan itu ada strategi: identifikasi, pemetaan, lalu usulan ke pemerintah pusat.

╔════════════════════════════════════╗
“Kita harus realistis dengan kemampuan daerah.
Tetapi kita tidak boleh menyerah pada keadaan.
Yang rusak kita hitung, yang belum ada kita rancang,
lalu kita perjuangkan sampai ke pusat.”

╚════════════════════════════════════╝

Di Fatuleu Barat hingga Amfoang, jalan rusak bukan sekadar soal aspal terkelupas. Ia adalah jarak antara petani dan pasar, antara anak sekolah dan ruang kelas, antara pasien dan fasilitas kesehatan.

Banjir hari itu menjadi metafora: alam memang tak bisa dilawan, tetapi kelambanan bisa diperbaiki.

Peristiwa hampir terhanyut bukanlah yang pertama. Yosef Lede mengingat momen saat menghadiri pembukaan Sidang Klasis Fatuleu Timur di GMIT Betel Nunasi, Desa Tanini. Kendaraan timnya kala itu nyaris hanyut ketika menyeberangi kali yang dalam, sebelum warga turun tangan membantu.

Risiko telah menjadi bagian dari perjalanan.

Namun bagi sang pemimpin, pelayanan publik bukan pilihan musiman.

╔════════════════════════════════════╗
“Melewati kondisi sulit bukan hal baru.
Tetapi memastikan masyarakat tidak sendirian menghadapi kesulitan—
itulah tanggung jawab yang tak boleh surut.”

╚════════════════════════════════════╝

Sore itu, ketika arus mulai mereda dan kendaraan Patwal berhasil dievakuasi, yang tersisa bukan hanya jejak ban di lumpur. Ada pesan yang lebih dalam: bahwa pembangunan di wilayah perbatasan dan pedalaman bukan sekadar proyek fisik, tetapi komitmen moral.

Di antara gemuruh banjir dan derap langkah di tanah basah, tanggung jawab diuji—dan hari itu, ia memilih untuk tetap berdiri.

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe