MAPPI [LINTASTIMOR.ID] — Senja di Pelabuhan Kepi, Kamis (12/2/2026), tak seperti biasanya. Deru mesin speedboat memecah hening Sungai Obaa. Di atas geladaknya, 33 wajah letih menatap daratan dengan sorot mata campuran antara trauma dan harapan. Mereka baru saja keluar dari bayang-bayang kekerasan di Yaniruma, Distrik Korowai, Kabupaten Boven Digoel.
Sehari sebelumnya, Rabu (11/2/2026), langit Papua Selatan tercabik kabar duka. Penembakan terhadap Pilot dan Co-pilot Pesawat Smart PK-SNR saat mendarat di Bandara Korowai memicu kepanikan. Rasa takut merambat cepat. Pelayanan publik lumpuh. Warga memilih menyelamatkan diri.
Dan sore itu, Mappi membuka pintu.
Di dermaga, Wakil Bupati Mappi H. Sanusi, S.Sos berdiri paling depan. Didampingi Kapolres Mappi Kompol Suparmin, S.I.P., M.H, serta perwakilan Dandim 1704/Mappi Kapten Inf. Yudianto Pasipers, ia menyambut satu per satu warga yang turun dari speedboat pukul 16.05 WIT. Tak ada protokoler kaku. Yang ada hanyalah jabat tangan hangat dan tatap empati.
Di antara mereka terdapat sebelas tenaga kesehatan, delapan guru, dua pegawai distrik, empat pegawai inspektorat, satu teknisi jaringan, tiga warga sipil, satu balita, dan tiga anak-anak. Mereka adalah wajah pelayanan negara di wilayah terluar—orang-orang yang selama ini menghidupkan sekolah, puskesmas, dan kantor distrik di pedalaman.
Perjalanan mereka tidak singkat. Dari Yaniruma menuju Distrik Citak Mitak pada Rabu sore, sebelum akhirnya melintasi sungai menuju Kepi. Air sungai menjadi saksi perpindahan dari wilayah konflik menuju ruang aman.
Dalam suasana haru, Wakil Bupati Mappi menyampaikan pernyataan yang bukan sekadar formalitas.
“Proses evakuasi ini adalah aksi kemanusiaan. Alhamdulillah berjalan baik. Sesuai arahan Bupati, saudara-saudara kita ditempatkan sementara di Hotel Avista dan Penginapan Nusantara sebelum dipulangkan ke Boven Digoel.”
Kalimat itu sederhana, namun sarat makna. Pemerintah Daerah Mappi tidak menunggu situasi reda. Ia bergerak. Bahkan Bupati Mappi, meski sedang berada di luar Papua, tetap memberi instruksi agar evakuasi segera dilakukan.
“Kami memahami kondisi mental saudara-saudara kami. Walaupun Bupati berada di luar Papua, beliau meminta agar warga Yaniruma segera dievakuasi dan selanjutnya dipulangkan dengan pesawat ke Boven Digoel,” ujar Sanusi.
Bagi 33 warga itu, hotel dan penginapan bukan sekadar tempat bermalam. Itu adalah ruang pemulihan—ruang untuk menenangkan trauma, merajut kembali keberanian.
Di sisi lain, Kapolres Mappi Kompol Suparmin menyampaikan duka mendalam atas gugurnya pilot Pesawat Smart PK-SNR.
“Kami sangat prihatin dan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Dedikasi para pilot dalam melayani masyarakat di wilayah terpencil adalah pengabdian yang luar biasa. Semoga keluarga diberi ketabahan dan kekuatan.”
Ucapan itu menggema dalam kesadaran kolektif: bahwa konflik bersenjata selalu meninggalkan luka yang tak mudah sembuh.
Sementara itu, Kepala Distrik Yaniruma, Leo Gae, tak menutupi rasa terima kasihnya.
“Proses evakuasi ini atas koordinasi Distrik Yaniruma dan Distrik Citak Mitak. Terima kasih kepada Pemda Mappi yang telah melakukan evakuasi kepada kami.”
Namun di balik ucapan terima kasih, ada harapan besar yang mengemuka.
“Kami berharap Pemerintah Kabupaten Boven Digoel dapat mengambil langkah agar pelayanan pendidikan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat bisa kembali berjalan normal.”
Itulah inti persoalannya. Evakuasi adalah langkah darurat. Tetapi pemulihan adalah pekerjaan panjang. Pendidikan dan kesehatan tidak boleh menjadi korban berulang dari konflik bersenjata. Guru dan tenaga medis bukan pihak dalam pertikaian; mereka adalah penjaga masa depan.
Di Pelabuhan Kepi sore itu, kita melihat wajah negara yang hadir. Bukan dalam bentuk seragam dan senjata semata, tetapi dalam bentuk empati, koordinasi, dan keberanian mengambil keputusan cepat.
Papua kembali diuji. Namun di tengah duka, kemanusiaan masih menemukan jalannya.
Dari Yaniruma yang mencekam, 33 warga itu kini menatap esok dengan napas lebih lega. Sungai Obaa telah membawa mereka menjauh dari suara tembakan. Tapi harapanlah yang membawa mereka pulang.
Dan di tengah segala ketidakpastian, satu pesan tersisa kuat:
ketika konflik melukai, kemanusiaan harus menjadi jawaban pertama.


















