Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaHukum & KriminalNasionalPeristiwaPolkam

Serka AC Gugur, Aparat Memburu Pelaku, Luka Kemanusiaan Kembali Terbuka di Tanah Papua

40
×

Serka AC Gugur, Aparat Memburu Pelaku, Luka Kemanusiaan Kembali Terbuka di Tanah Papua

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Darah di Kilometer 50: Ketika Dentuman Senjata Memecah Sunyi Tembagapura

MIMIKA | LINTASTIMOR.ID — Pagi di kawasan KM 50, area operasional PT Freeport Indonesia, semula berjalan seperti biasa. Rombongan kendaraan melintas di jalur yang membelah perbukitan Tembagapura. Kabut tipis masih menggantung, dan suara mesin kendaraan menjadi satu-satunya irama di jalan tambang itu.

Example 300x600

Lalu dentuman terdengar.
Sunyi pecah.

Rabu (11/3/2026), kawasan yang menjadi salah satu objek vital nasional itu kembali diguncang insiden kontak tembak. Kodam XVII/Cenderawasih membenarkan peristiwa tersebut.

Kapendam XVII/Cenderawasih, Letkol Inf Tri Purwanto, S.I.P., menyampaikan bahwa insiden terjadi saat personel Koramil 1710-04/Tembagapura, Kodim 1710/Mimika, tengah melaksanakan tugas di wilayah tersebut.

“Benar telah terjadi insiden kontak tembak di KM 50 Area PT. FI. Saat ini seluruh korban sudah dievakuasi dan mendapatkan penanganan medis secara optimal,” ujar Kapendam.

Di jalur itu, situasi berubah dalam hitungan detik. Aparat merespons. Evakuasi dilakukan. Asap mesiu menyisakan duka.

Gugur di Medan Tugas

Berdasarkan laporan pendahuluan yang diterima Kodam XVII/Cenderawasih, satu prajurit TNI, Serka AC, gugur dalam kontak tembak tersebut.

Namanya kini tercatat sebagai prajurit yang mengakhiri tugasnya di garis rawan.

Sementara itu, Sertu H dilaporkan mengalami perdarahan pada bagian hidung dan langsung mendapatkan penanganan medis. Seorang warga sipil, Sdr. HR—karyawan KPI PT Freeport Indonesia—juga mengalami luka tembak dan tengah menjalani perawatan.

Di balik angka dan laporan resmi, ada keluarga yang menunggu kabar. Ada rekan kerja yang terdiam. Ada anak-anak yang mungkin belum memahami arti kata “gugur”.

Insiden ini kembali menegaskan bahwa konflik bersenjata di Papua tak hanya menyentuh aparat, tetapi juga warga sipil.

Memburu Pelaku, Menjaga Stabilitas

Kapendam menegaskan bahwa aparat keamanan tengah melakukan pengejaran terhadap pelaku penembakan.

“Kami terus berkoordinasi dengan aparat dan pihak terkait untuk menjamin stabilitas keamanan di wilayah tersebut,” tegasnya.

Upaya peningkatan kewaspadaan pun dilakukan, terutama di kawasan objek vital nasional yang memiliki nilai strategis tinggi.

“TNI akan terus meningkatkan kewaspadaan di sejumlah titik rawan, khususnya di kawasan objek vital nasional, guna memberikan rasa aman bagi masyarakat dan para pekerja.”

Pernyataan itu adalah komitmen sekaligus pesan: negara hadir untuk menjaga.

Luka yang Berulang

Namun di luar strategi dan operasi keamanan, peristiwa ini kembali membuka luka lama di Tanah Papua. Setiap insiden menyisakan duka yang tak mudah sembuh. Setiap peluru yang dilepaskan selalu membawa konsekuensi kemanusiaan.

KM 50 bukan sekadar titik koordinat di peta tambang. Ia adalah ruang kerja para pekerja, jalur patroli aparat, dan medan yang kerap menyimpan ketegangan.

Hari itu, jalan tersebut menjadi saksi bahwa keamanan di wilayah rawan bukanlah perkara sederhana.

Di tengah perbukitan yang megah dan sumber daya alam yang melimpah, suara tembakan kembali mengingatkan: stabilitas adalah sesuatu yang harus terus diperjuangkan.

Dan bagi keluarga Serka AC, hari itu akan selalu dikenang sebagai hari ketika seorang prajurit tidak lagi pulang.

Sementara aparat memburu pelaku, harapan masyarakat tetap satu—agar tanah ini lebih sering mendengar suara damai daripada dentuman senjata.

Example 300250