Ketika Kehadiran Lebih Bermakna dari Kata-Kata
RINHAT |LINTASTIMOR.ID — Rabu, 11 Februari 2026, siang itu angin berembus pelan di Desa Niti, Kecamatan Rinhat,Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.
Langit seperti menahan diri untuk tidak terlalu terang. Di sebuah rumah sederhana, duka masih terasa kental—menggantung di dinding, diam di sudut-sudut ruangan, dan menetap di mata seorang ibu yang kehilangan anaknya.
Dito Faot.
Nama itu kini lebih sering disebut dalam doa daripada panggilan bermain. Ia hilang terseret arus di Pantai Cemara Abudenok—peristiwa yang bukan hanya meninggalkan luka bagi keluarga, tetapi juga menggetarkan hati masyarakat Malaka.
Di tengah suasana yang masih basah oleh air mata, Bupati Malaka Stefanus Bria Seran hadir bersama sejumlah pejabat daerah. Tidak dengan protokol yang mencolok. Tidak dengan jarak yang kaku.
Ia melangkah masuk ke rumah itu seperti seorang kerabat.
Bupati duduk sejajar dengan Mama Dito, Ida Bani. Tanpa meja pembatas. Tanpa sekat kekuasaan. Yang ada hanya percakapan pelan, doa yang lirih, dan keheningan yang dipahami bersama.
“Kami datang sebagai keluarga. Duka ini adalah duka kita bersama.”
Kalimat itu diucapkan tanpa nada formalitas. Ia mengalir seperti empati yang tulus. Di ruang kecil itu, jabatan seakan kehilangan atributnya. Yang tersisa hanya kemanusiaan.
Rumah yang Dipenuhi Kenangan
Di rumah itu, setiap sudut menyimpan jejak Dito.
Mungkin di kursi tempat ia biasa duduk.
Di halaman tempat ia berlari.
Atau di pintu yang kini lebih sering terbuka, menanti sesuatu yang tak lagi kembali.
Mama Ida Bani menerima kehadiran Bupati dengan mata yang masih sembab. Suaranya bergetar, tetapi ketulusannya tak terbantahkan.
“Terima kasih Bapak Bupati Malaka, SBS, atas kepeduliannya hingga datang sampai di rumah kami,” ucapnya penuh haru.
Kata “datang” dalam kalimat itu terasa lebih dari sekadar kunjungan. Ia adalah simbol bahwa pemerintah tidak absen dalam duka rakyatnya.
Bupati Stefanus Bria Seran juga memberikan atensi dengan menyumbang untuk rumah duka—sebuah bentuk kepedulian yang tak hanya simbolis, tetapi nyata.
Namun lebih dari bantuan materi, yang terasa kuat hari itu adalah kehadiran.
Duka yang Dirangkul Bersama
Di tengah musibah, sering kali yang paling dibutuhkan bukan jawaban, melainkan pelukan sosial. Kehadiran pemerintah di rumah keluarga Dito menjadi pesan bahwa Malaka tidak membiarkan warganya berjalan sendiri dalam kesedihan.
Tak ada pidato panjang. Hanya doa bersama, tangan yang saling menggenggam, dan hening yang menyatukan hati.
Di luar rumah, warga berdiri dengan wajah sendu. Solidaritas mengalir dalam bentuk kunjungan, doa, dan dukungan yang tak putus.
Kehilangan memang tak bisa diganti.
Ombak yang membawa Dito pergi tak bisa dipanggil kembali.
Namun kebersamaan membuat luka itu tidak sepenuhnya sunyi.
Di Desa Niti hari itu, pemerintah tidak hadir sebagai institusi semata, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar yang sedang berduka.
Dan mungkin, di tengah kesedihan yang belum reda, itulah yang paling dibutuhkan—keyakinan bahwa ketika satu rumah berduka, seluruh Malaka ikut merasakannya.
Mari kita terus mendoakan Dito.
Mari kita terus menguatkan keluarga yang ditinggalkan.
Karena dalam duka yang dipeluk bersama, selalu ada secercah cahaya pengharapan.


















