Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

Dari Kupang ke Perbatasan Tanpa Asap: Ketika Mobil Listrik Mengetuk Wajah NKRI di Atambua

289
×

Dari Kupang ke Perbatasan Tanpa Asap: Ketika Mobil Listrik Mengetuk Wajah NKRI di Atambua

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PLN EV Tour NTT Menguji Jarak, Mengikis Ragu, Menyalakan Imajinasi Energi Masa Depan

ATAMBUA | LINTASTIMOR.ID — Di halaman Mal Pelayanan Publik Atambua, Rabu pagi (11/02/2026), sebuah mobil meluncur nyaris tanpa suara. Tak ada deru mesin, tak ada asap knalpot. Hanya roda yang berputar dan tatapan warga yang mengikuti dengan rasa ingin tahu.

Example 300x600

Di kota perbatasan yang selama ini akrab dengan kendaraan berbahan bakar minyak, hari itu energi masa depan diperkenalkan—dalam bentuk yang sunyi, bersih, dan penuh tanda tanya.

PT PLN (Persero) melalui kegiatan PLN EV Tour NTT mengusung tema “Melaju Bersama Energi Masa Depan”. Sebuah tur yang bukan sekadar perjalanan teknis, melainkan perjalanan psikologis: mengikis keraguan masyarakat terhadap kendaraan listrik, terutama tentang satu ketakutan klasik—jarak dan baterai.

Manajer PLN UP3 Kupang, Nikolaus Denis Adrian, berdiri di hadapan para pejabat dan masyarakat dengan satu narasi sederhana: membuktikan, bukan sekadar menjelaskan.

“Dua hari ini kami melakukan perjalanan Tour PLN EV dengan tujuan mengenalkan kendaraan listrik kepada masyarakat di dataran timur. Ini sebagai jawaban atas ketakutan masyarakat yang selama ini takut kehabisan baterai karena jarak Kupang ke Atambua sangat jauh.”

Jarak Kupang–Atambua bukan sekadar angka kilometer. Ia adalah simbol keraguan. Apakah mobil listrik sanggup menembus tanjakan, turunan, dan jalan panjang lintas Timor?

Nikolaus menjawabnya dengan pengalaman nyata.

“Kami berangkat dari Kupang dengan baterai 100 persen dan tiba di Atambua baterai masih sekitar 40 persen. Bahkan mobil tersebut masih kami gunakan untuk berkeliling karena sebelumnya ada kegiatan serupa di Kabupaten Soe.”

Di antara angka-angka itu, terselip pesan: kecemasan jarak perlahan mulai kehilangan pijakan.

Sunyi yang Mengandung Masa Depan

Mobil listrik yang dipamerkan hari itu bukan hanya soal teknologi, tetapi soal perubahan gaya hidup. Ia senyap. Ia tak berasap. Ia tak meninggalkan jejak karbon di udara.

“Mobil listrik ini senyap, tidak ada polusi karena zero emission, tidak mengeluarkan gas buang. Ini menjadi progres pemerintah dalam penggunaan kendaraan ramah lingkungan,” ujar Nikolaus.

Sunyi yang dihadirkan mobil listrik terasa paradoksal. Di satu sisi ia tenang, di sisi lain ia mengguncang kebiasaan lama. Di kota perbatasan seperti Atambua—wajah kedua Indonesia setelah Kupang—kehadiran teknologi ini membawa simbol kuat tentang arah pembangunan.

“Atambua adalah kota besar kedua dan daerah perbatasan langsung dengan Timor Leste. Kami berharap teknologi terbaru, baik dari sisi PLN maupun transportasi, dapat ditampilkan kepada dunia luar sebagai wajah NKRI.”

Wajah NKRI, kini, bukan hanya soal gedung pemerintahan dan pos lintas batas. Ia juga tentang bagaimana Indonesia menampilkan komitmen terhadap energi bersih di beranda terdepannya.

Pertanyaan yang Realistis

Namun setiap kemajuan selalu bertemu pertanyaan yang wajar.

Bupati Belu, Willybrodus Lay, S.H, menyambut kehadiran EV Tour dengan apresiasi sekaligus kehati-hatian. Ia tidak sekadar terpesona oleh teknologi, tetapi memikirkan kesiapan masyarakat.

“Yang pertama, mobil bensin memiliki akselerasi tertentu. Apakah hal itu juga ada pada mobil listrik?”

Pertanyaan itu sederhana, namun mewakili rasa ingin tahu banyak orang: apakah performanya sebanding? Apakah nyaman di tanjakan perbatasan?

Ia juga menyinggung soal layanan purna jual—bagian yang kerap luput dalam euforia teknologi baru.

“After sales service ini penting, termasuk waktu pemakaian baterai dan jaminannya. Jangan sampai masyarakat dibuat repot dengan persoalan baterai karena ini yang belum dipahami dengan baik.”

Di sinilah diskusi menjadi matang. Bukan hanya tentang melaju, tetapi tentang keberlanjutan.

Meski demikian, apresiasi tetap diberikan.

“Saya mengucapkan terima kasih karena sudah membawa produk ramah lingkungan ini ke Kabupaten Belu. Semoga masyarakat tertarik.”

Bagi pemerintah daerah, kendaraan listrik bukan sekadar alat transportasi, tetapi bagian dari komitmen besar menuju penurunan emisi.

“Semoga apa yang diinginkan pemerintah, yakni emisi gas buang menjadi zero, dapat benar-benar terwujud.”

Melaju di Ujung Negeri Perbatasan Timor Leste

EV Tour NTT di Atambua bukan hanya agenda seremonial. Ia adalah upaya membangun kepercayaan—bahwa teknologi masa depan tak hanya milik kota besar, tetapi juga milik perbatasan.

Di bawah langit Atambua yang terik, mobil listrik itu kembali melaju perlahan. Tanpa suara keras. Tanpa asap.

Mungkin beginilah masa depan datang—tidak dengan dentuman, tetapi dengan keheningan yang pasti.

Dan dari kota perbatasan ini, Indonesia sedang belajar bahwa energi bersih bukan sekadar slogan. Ia adalah perjalanan panjang yang sudah dimulai.

Example 300250