Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPeristiwaPolkam

Di Ruang Sunyi Kekuasaan, Prabowo Menegaskan Ulang Sumpah Negara

102
×

Di Ruang Sunyi Kekuasaan, Prabowo Menegaskan Ulang Sumpah Negara

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Rapat Pimpinan TNI–Polri 2026: Ketika Persatuan Menjadi Senjata Paling Awal Republik

JAKARTA |LINTASTIMOR.ID-Di ruang rapat yang tertutup dari hiruk-pikuk jalanan, Presiden Prabowo Subianto duduk tegak memimpin Rapim TNI–Polri 2026. Tidak ada tepuk tangan yang berlebihan, tak pula euforia yang dipertontonkan. Yang terasa justru kesunyian penuh makna—sebuah jeda reflektif tentang negara, kekuasaan, dan tanggung jawab sejarah.

Di hadapan para jenderal dan perwira tinggi TNI serta Polri, Prabowo berbicara bukan sekadar sebagai kepala pemerintahan, melainkan sebagai penjaga mandat konstitusi. Rapat ini menjadi lebih dari agenda tahunan. Ia menjelma momentum untuk menegaskan ulang satu pesan mendasar: pertahanan dan keamanan negara bukan sekadar soal senjata, tetapi soal kesetiaan pada persatuan dan rakyat.

Example 300x600

TNI dan Polri, dalam pandangan Presiden, bukan hanya instrumen negara, melainkan pilar moral yang menopang keberlangsungan republik. Di tengah dinamika global, ancaman multidimensi, dan tantangan internal yang kian kompleks, soliditas kedua institusi ini kembali diletakkan sebagai fondasi paling awal.

“Saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran TNI dan Polri atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian dalam menyukseskan program-program pemerintah serta mempercepat pembangunan yang berpihak kepada kepentingan rakyat.”

Kata-kata itu tidak disampaikan dengan nada retoris. Ia lahir dari kesadaran bahwa stabilitas nasional adalah prasyarat mutlak bagi keadilan sosial dan pembangunan yang berkelanjutan. Dalam narasi Prabowo, pembangunan bukan sekadar soal angka pertumbuhan, melainkan tentang rasa aman yang memungkinkan rakyat hidup bermartabat.

Rapim 2026 ini juga menjadi ruang penegasan etis. Presiden mengingatkan bahwa kekuatan TNI dan Polri harus selalu berpijak pada semangat kebersamaan, bukan ego sektoral; pada persatuan, bukan rivalitas institusional.

“Persatuan, soliditas, dan semangat kebersamaan di lingkungan TNI dan Polri adalah fondasi utama dalam menghadapi berbagai tantangan bangsa ke depan.”

Pesan itu menggema sebagai pengingat sekaligus peringatan. Bahwa di saat bangsa diuji oleh polarisasi, disinformasi, dan tekanan geopolitik, justru disiplin, kesatuan komando, dan loyalitas pada konstitusi menjadi kompas yang tak boleh goyah.

Di akhir rapat, tidak ada pernyataan sensasional. Namun justru di situlah kekuatannya. Rapim TNI–Polri 2026 mencatatkan dirinya sebagai peristiwa sunyi yang penting—sebuah pertemuan yang menegaskan bahwa negara ini masih berdiri di atas nilai kebersamaan, dan bahwa senjata terkuat republik tetaplah persatuan.

 

Example 300250