Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaPeristiwa

Pulanglah dalam Doa, Jorganio Faot

200
×

Pulanglah dalam Doa, Jorganio Faot

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ketika Nama Dipanggil, Laut Memilih Diam

MALAKA |LINTASTIMOR.ID —
Di Pantai Cemara Abudenok, laut tidak menjawab apa pun. Ia hanya menghampar, luas dan dingin, ketika seorang ibu berdiri di tepi pasir, memanggil nama anaknya—untuk terakhir kali.

Example 300x600

Nama itu: Jorganio Faot.
Anak lelaki 15 tahun, pelajar SMP Negeri Fatukoan, yang akrab disapa Dito.

Sudah tujuh hari sejak Dito hilang ditelan ombak saat mandi bersama teman-temannya di pantai itu, Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat, Minggu 1 Februari 2026. Tujuh hari pencarian, lima hari harap yang disisir bersama buih dan angin, namun laut memilih menyimpan rahasianya sendiri.

Hari Terakhir Pencarian

Hari itu adalah penutup. Bukan karena harapan telah mati, tetapi karena tenaga manusia memiliki batas. Di tengah hening pantai, Ida Bani, ibu Dito, melangkah ke bibir laut. Suaranya bergetar saat menyebut nama anaknya—sebuah panggilan perpisahan, sebuah penghormatan terakhir sebelum pulang ke Biudukfoho.

Tiba-tiba, seekor buaya muncul di pinggir pantai. Ia diam sejenak, lalu kembali ke air. Tidak ada teriakan. Tidak ada kepanikan. Hanya sunyi yang kian berat.

“Dito… mama pulang dulu.
Kalau engkau dengar, dengarlah doa mama.”

Bagi keluarga, peristiwa itu bukan untuk ditafsirkan dengan bising. Di banyak tradisi pesisir, buaya dipercaya sebagai penjaga wilayah air—penanda batas antara yang bisa dijangkau manusia dan yang harus dilepas dengan ikhlas. Hari itu, alam seolah berkata pelan: cukup.

Laut yang Angkuh, Doa yang Tak Pernah Habis

Gelombang Pantai Cemara Abudenok dikenal kuat. Arusnya berubah cepat, tak selalu ramah. Ombak yang sama itulah yang menyeret Dito menjauh dari jangkauan tangan, dari pelukan rumah.

“Kami kembali tanpa Dito.
Kami hanya membawa duka yang begitu mendalam,”

ujar keluarga, dengan mata sembab menatap ufuk yang tak bertepi.

Namun pulang bukan berarti meninggalkan. Keluarga menegaskan: Dito tidak sendiri. Doa-doa terus dipanjatkan—di rumah, di gereja, di tepi laut yang sama.

“Walau kami kembali ke Biudukfoho,
ingatlah kami tidak meninggalkanmu.
Kami percaya, suatu hari nanti kami akan datang menjemputmu.”

Nama yang Tidak Tenggelam

Lima hari pencarian raga mungkin berhenti. Tetapi pencarian makna baru dimulai. Setiap desau angin dianggap suara Dito. Setiap kecipak ombak terasa langkah kecil yang ingin pulang.

Jika semesta memilih Jorganio Faot untuk tetap bersama samudera, keluarga memilih menjadikan doa sebagai jembatan cahaya—agar damai menemukan muaranya.

“Pulanglah dalam doa, Dito.
Jika bukan raga, biarlah damai yang kembali.”

Pantai Cemara Abudenok kembali sepi.
Namun rindu—tak pernah surut.
Nama Jorganio Faot tidak tenggelam; ia tinggal abadi di hati orang-orang yang mencintainya.

 

Example 300250
Penulis: Redaksi Lintastimor.idEditor: Agustinus Bobe