Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupPeristiwa

Dari Plastik ke Pundak Pangkat Prada

103
×

Dari Plastik ke Pundak Pangkat Prada

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Air Mata Ayah yang Baru Percaya Setelah Seragam Itu Melekat

JAKARTA |LINTASTIMOR.ID-Kupang tidak pernah benar-benar tidur. Kota ini hanya berganti sunyi. Di lorong-lorong panas yang berdebu, seorang anak muda memanggul karung plastik—mengetuk waktu, menawar nasib, dan diam-diam menyimpan satu mimpi yang tak semua orang percaya.

Namanya Prada Yaret Kase.

Example 300x600

Beberapa tahun lalu, ia hanyalah penjual plastik keliling di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Dari pagi ke sore, langkahnya mengitari pasar, perumahan, dan gang-gang sempit. Tangannya menimbang plastik, kepalanya menimbang masa depan. Di sela terik dan lelah, ia menyelipkan satu agenda yang nyaris selalu berakhir pahit: mendaftar tes TNI—dan gagal. Bukan sekali. Bukan dua kali. Tapi berkali-kali.

Namun Yaret tidak pernah menegosiasikan mimpinya dengan kegagalan.

Ia kembali menjual plastik. Ia kembali mendaftar. Ia kembali jatuh. Ia kembali bangkit.

Ayahnya tahu Yaret di Kupang. Tapi yang ayahnya tahu hanya satu: anaknya menjual plastik. Tak lebih. Tak kurang. Ada gangguan kesehatan yang membuat sang ayah sulit mempercayai kabar baik. Setiap cerita tentang tes, tentang peluang, tentang harapan—jatuh seperti hujan di tanah yang belum siap menumbuhkan keyakinan.

Hingga suatu hari, Yaret lolos.

Ia harus berangkat pendidikan. Ia menelepon rumah. Ia memberi kabar. Tapi kepercayaan belum juga lahir. Di mata ayahnya, Yaret masih penjual plastik yang terlalu sering berharap.

Waktu berjalan. Pendidikan berlangsung. Hari-hari keras ditempa disiplin dan doa. Hingga 4 Februari 2026, sebuah pagi yang mengubah segalanya.

Di hari pelantikan itu, Yaret berdiri tegak. Seragam lengkap TNI melekat di tubuhnya. Pangkat itu nyata. Sepatu itu mengkilap. Nama itu dipanggil dengan kehormatan. Dan di detik itulah—akhirnya—ayahnya percaya.

Tangis pecah. Bukan tangis sedih. Bukan pula tangis bangga semata. Itu tangis yang lahir dari pertemuan panjang antara keraguan dan kenyataan.

Telepon berdering. Sambungan hanya beberapa menit. Tidak ada pidato. Tidak ada wejangan panjang. Dari mulut ayahnya, hanya tiga kata yang keluar—pelan, bergetar, dan abadi:

“Do’a itu sehat.”

Tiga kata itu lebih berat dari semua pangkat. Lebih kuat dari semua senjata. Lebih panjang dari semua pidato pelantikan.

Dalam bahasa yang sederhana, Yaret menyampaikan kembali keyakinan ayahnya—sebuah pengakuan yang selama ini tertahan:

“Bapak mit empalsai, au lail tentara ee.”
(Bapak akhirnya percaya, saya benar-benar tentara.)

Hari itu, plastik-plastik yang dulu dipanggul Yaret seolah berubah menjadi pijakan. Jalan berdebu menjadi lintasan kehormatan. Dan seorang ayah, yang lama hidup dalam keraguan, akhirnya pulang ke satu kepastian: doa yang dirawat dengan sabar, memang menyehatkan takdir.

Karena pada akhirnya, seragam bukan sekadar pakaian.
Ia adalah bukti—bahwa mimpi orang kecil, jika dipelihara dengan kerja dan doa, akan menemukan jalannya sendiri.

Dan air mata ayah itu…
adalah pangkat pertama yang paling sah.

Example 300250
Penulis: Agustinus BobeEditor: Agustinus Bobe