HMS Hadir di Pantai Cemara Abudenok, Menjaga Harapan Keluarga Dito
MALAKA |LINTASTIMOR.ID-Pantai Cemara Abudenok tidak lagi sekadar bentang pasir dan debur ombak. Ia telah menjadi ruang penantian, tempat doa-doa menggantung di udara, dan harapan terus dipeluk meski hari demi hari berlalu tanpa kepastian.
Jumat (06/02/2026), di tengah suasana yang hening dan penuh haru itu, Wakil Bupati Malaka, Henri Melki Simu (HMS), melangkah menyusuri tepi pantai. Ia datang bukan sekadar sebagai pejabat, melainkan sebagai wakil negara—untuk mendengar, menguatkan, dan menemani warganya yang sedang diuji oleh kehilangan.
Sudah hampir sepekan lamanya keluarga Jorganio Faot, akrab disapa Dito, bertahan di pantai ini. Anak itu hilang terseret arus ombak laut beberapa hari lalu. Sejak saat itu, Pantai Cemara Abudenok menjadi rumah sementara bagi keluarga, doa, dan harapan yang belum mau padam.
Di sisi lain, Basarnas, BPBD Kabupaten Malaka, dan Tagana Dinas Sosial terus berjibaku dengan alam, menyisir laut, menantang ombak, mencari tanda-tanda kehidupan—atau setidaknya kepastian.
Dalam pertemuan yang penuh emosi, HMS menyampaikan empati mendalam kepada keluarga. Ia juga menyampaikan permohonan maaf karena baru bisa hadir secara langsung, sembari menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak pernah berhenti bekerja.
❝Pemerintah Kabupaten Malaka tidak akan berhenti berupaya. Pencarian akan terus dilakukan semaksimal mungkin. Kami hadir di sini untuk memastikan keluarga tidak berjalan sendiri menghadapi cobaan ini❞
— Henri Melki Simu, Wakil Bupati Malaka
Kepada keluarga Dito, HMS mengajak untuk tetap tabah dan ikhlas, seraya menegaskan bahwa kehadiran pemerintah bukan hanya soal prosedur, tetapi soal kemanusiaan dan tanggung jawab moral negara kepada rakyatnya.
Di hadapan laut yang tak henti berdebur, Ida Bani, ibu Dito, menyampaikan rasa terima kasih yang dalam. Matanya menyimpan lelah, tapi suaranya tetap tegar.
❝Kami berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Malaka yang terus mendampingi kami. Kebutuhan makan dan minum selama kami berada di pantai ini selalu diperhatikan. Kami merasa tidak ditinggalkan❞
— Ida Bani, Ibu Dito
Bagi keluarga Dito, perhatian itu bukan sekadar bantuan logistik. Ia adalah tanda bahwa negara hadir—bukan dari balik meja, tetapi di garis pantai, di tengah duka, di antara doa-doa yang belum selesai.
Di Pantai Cemara Abudenok, di antara angin laut dan harapan yang rapuh, kehadiran HMS menjadi penegas bahwa tanggung jawab pemerintah daerah tidak berhenti pada administrasi, tetapi berlanjut hingga menyentuh luka warganya.
Dan di tengah penantian yang masih berjalan, satu hal menjadi terang:
negara belum berpaling dari pantai ini.


















