18 Titik Rawan Mimika Dipetakan, Negara Hadir Lewat Sepatu Hitam di Jalanan Sunyi
MIMIKA | LINTASTIMOR.ID —
Di tanah Mimika yang tak pernah benar-benar tidur, negara memilih untuk hadir bukan dengan pidato, melainkan dengan langkah-langkah tegas di lorong-lorong sunyi. Sepatu hitam pasukan Brimob kini menyentuh aspal, tanah, dan bebatuan—menandai satu pesan: keamanan bukan janji, melainkan kerja nyata.
Komandan Batalyon B Pelopor Satbrimob Polda Papua Tengah, Kompol Onisimus Umbu Sairo, S.I.K, menyatakan kesiapan penuh pasukannya untuk memback up Polres Mimika dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas).
Bukan tanpa peta, bukan pula dengan perkiraan semata. Aparat bergerak berdasarkan data, laporan, dan suara warga.
“Kami telah memetakan 18 titik lokasi rawan. Penentuan ini berdasarkan laporan masyarakat, laporan polisi, pengaduan, serta hasil evaluasi kepolisian,”
— Kompol Onisimus Umbu Sairo, S.I.K
Pernyataan itu disampaikan usai pelaksanaan rekonstruksi kasus di Kwamki Narama, Selasa (3/2/2026). Di sana, aparat tak hanya menegakkan hukum, tetapi juga membaca denyut sosial—di mana rasa aman sering kali diuji oleh kejahatan yang datang tanpa aba-aba.
Back Up Total, Hingga ke Polsek-Polsek
Brimob tidak datang setengah hati. Dukungan diberikan secara menyeluruh, termasuk kepada Polsek-Polsek di wilayah Mimika yang dinilai membutuhkan penguatan.
“Kami ingin memastikan Mimika benar-benar aman dan nyaman. Ini adalah bagian dari ikhtiar menciptakan Mimika yang cinta damai,”
— Kompol Onisimus Umbu Sairo
Baginya, keamanan bukan sekadar absennya kejahatan, tetapi hadirnya rasa tenang di hati masyarakat—di pasar, di jalan, di rumah-rumah sederhana yang menyimpan harapan hidup lebih baik.
Latihan, Disiplin, dan Ketegasan Terukur
Di balik ketenangan yang ingin diciptakan, ada disiplin yang terus diasah. Personel Brimob secara rutin menjalani latihan fisik dan bela diri, memastikan kesiapan menghadapi dinamika tugas yang semakin kompleks.
“Profesionalisme harus dijaga. Penegakan hukum dilakukan secara tegas, terukur, dan sesuai prosedur. Tidak ada ruang dan waktu bagi pelaku kejahatan,”
— Kompol Onisimus Umbu Sairo
Ketegasan itu bukan untuk menakut-nakuti warga, melainkan untuk memberi kepastian: hukum bekerja, negara hadir, dan keamanan dijaga.
Negara yang Terasa
Di Mimika, kehadiran Brimob bukan sekadar seragam dan senjata. Ia adalah simbol bahwa negara tidak absen saat masyarakat membutuhkan perlindungan.
“Intinya, kami ingin kehadiran Brimob benar-benar dirasakan oleh masyarakat,”
— Kompol Onisimus Umbu Sairo
Di tengah tantangan keamanan yang terus berubah, satu hal ingin ditegaskan: Mimika bukan dibiarkan berjalan sendiri. Negara memilih berdiri di sisinya—diam, waspada, dan siap bertindak.


















