MALAKA BARAT |LINTASTIMOR.ID-
Pantai Cemara Abudenok sore itu tak lagi ramah. Ombaknya tetap datang dan pergi, tetapi seorang anak tak pernah kembali. Sudah lima hari berlalu, dan nama itu masih dipanggil—pelan, lirih, lalu pecah dalam tangis: Jorganio Faot, yang akrab disapa Dito, 15 tahun.
Dito, pelajar SMP Negeri Fatukoan, Desa Bidukfoho, hilang ditelan ombak saat mandi bersama teman-temannya di tepi Pantai Cemara Abudenok, Desa Umatoos, Kecamatan Malaka Barat, pada Minggu, 1 Februari 2026. Hingga hari kelima pencarian, tubuh kecil itu belum juga ditemukan.
Di sekolah, duka menjelma sunyi. Sebuah kursi di ruang kelas tetap kosong. Tak ada suara tawa, tak ada sapaan khas remaja. Hanya ruang yang terasa lebih dingin dari biasanya.
Bagi ibu guru Sharcy Loasana dikonfimasi Lintastimor.id Kamis,5 Pebruari 2026 pagi,menyisahkan Dito bukan sekadar murid. Ia adalah anak desa yang sederhana, datang ke sekolah dengan harapan-harapan kecil yang tumbuh diam-diam. Kehilangannya bukan hanya mengoyak keluarga, tetapi juga merobek rasa kebersamaan di sekolah.
Di tepi pantai, duka itu lebih telanjang. Ida Bani, ibu kandung Dito, nyaris tak beranjak dari pasir. Matanya sembab, suaranya serak. Ia memanggil nama anaknya berulang kali—seolah ombak bisa mendengar doa seorang ibu.
Dito tumbuh dalam keadaan yang tidak mudah. Ayahnya, Anton Faot, telah meninggalkan Dito dan ibunya sejak Dito masih kecil dan kini bekerja di Malaysia. Sejak itu, Ida Bani membesarkan Dito seorang diri, menanamkan harapan pada pendidikan, pada sekolah, pada masa depan yang sederhana namun bermakna.
Informasi yang beredar dari video dan unggahan media sosial Facebook memperlihatkan bagaimana warga, relawan, dan tim SAR menyusuri garis pantai, menatap laut dengan cemas. Doa-doa mengalir, lilin dinyalakan, dan nama Dito terus disebut—seolah dengan menyebut namanya, ia akan menemukan jalan pulang.
Lima hari tanpa kabar bukan hanya soal waktu. Itu adalah lima hari penantian, lima hari doa, lima hari luka yang tak mengering.
Pantai Cemara Abudenok kini menyimpan kisah yang tak akan mudah dilupakan. Bagi teman-teman Dito, pantai itu bukan lagi tempat bermain. Bagi ibunya, ia adalah batas antara harapan dan keikhlasan. Dan bagi sekolahnya, Dito akan selalu hidup—di daftar hadir yang tak pernah lagi terisi, dan di kursi kosong yang mengajarkan arti kehilangan.
Hingga berita ini diturunkan, pencarian masih terus dilakukan. Masyarakat berharap tim SAR segera menemukan Dito—apa pun bentuk jawabannya—agar seorang ibu bisa menutup penantian dengan pelukan terakhir, dan sebuah kelas bisa mengenang muridnya dengan doa yang utuh.


















