YPMAK Dorong Pengusaha Amungme–Kamoro Bangun Masa Depan Kopi Highland Mimika
TIMIKA.[LINTASTIMOR.ID] —
Di lereng-lereng tanah tinggi Mimika, biji kopi tumbuh perlahan, menyerap embun pagi dan kesabaran para petani. Dari tanah itulah harapan dirajut—bukan sekadar tentang komoditas, tetapi tentang kemandirian dan martabat masyarakat asli Papua.
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme Kamoro (YPMAK), selaku pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia, kini mengarahkan langkah strategisnya untuk mendorong lahirnya pengusaha kopi asli Papua, khususnya dari suku Amungme dan Kamoro, agar mengembangkan kopi Highland Mimika yang telah lama ditanam oleh masyarakat lokal.
Ketua YPMAK, Leonardus Tumuka, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam memastikan manfaat ekonomi sumber daya lokal benar-benar kembali ke masyarakat pemilik wilayah.
❝Kopi Highland sudah tumbuh dan berkembang di Mimika, tetapi keterlibatan pengusaha asli Papua masih sangat terbatas. YPMAK hadir untuk mengubah keadaan itu,❞
— Leonardus Tumuka, Ketua YPMAK
Menurut Leonardus, geliat usaha kopi di wilayah Timika dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang menjanjikan. Namun, peluang tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh masyarakat Amungme dan Kamoro sebagai pelaku utama di rantai usaha—dari hulu hingga hilir.
Karena itu, YPMAK menyiapkan dukungan menyeluruh, mulai dari pendampingan usaha, pelatihan manajemen, hingga penguatan kapasitas kewirausahaan bagi pengusaha asli Papua, agar mampu bersaing dan berkembang secara berkelanjutan.
❝Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penanam, tetapi juga menjadi pemilik usaha, pengelola, dan penentu arah masa depan kopinya sendiri,❞
— Leonardus Tumuka
Dengan fokus pada pemberdayaan pengusaha lokal, YPMAK berharap kopi Highland Mimika tidak hanya menjadi produk unggulan secara ekonomi, tetapi juga penanda identitas kultural Papua yang tumbuh dari tanah sendiri dan dikelola oleh tangan-tangan anak negeri.
Lebih dari sekadar komoditas, kopi dipandang sebagai jalan panjang menuju kemandirian ekonomi, sumber pendapatan yang berkelanjutan, serta simbol transformasi sosial bagi masyarakat Amungme dan Kamoro.
Dari tanah tinggi Mimika, secangkir kopi kini membawa cerita lain—tentang keberanian mengambil peran, tentang harapan yang dirawat, dan tentang masa depan yang diracik perlahan, setia, dan berdaulat.


















