Ketika jabatan berpindah tangan, komitmen pada Tanah Papua tak pernah bergeser. Di jantung Kodam XVII/Cenderawasih, pengabdian diperteguh dalam sunyi yang khidmat dan disiplin yang sakral.
JAYAPURA |LINTASTIMOR.ID—
Pagi itu, Aula Tonny A. Rompis di Makodam XVII/Cenderawasih tak sekadar menjadi ruang seremoni. Ia menjelma menjadi panggung sunyi tempat kesetiaan dipertaruhkan, amanah diperbarui, dan sumpah pengabdian diikat ulang—tanpa tepuk tangan, tanpa hingar-bingar.
Di sanalah Panglima Kodam XVII/Cenderawasih, Mayjen TNI Amrin Ibrahim, S.I.P., berdiri tegak memimpin Serah Terima Jabatan (Sertijab) dan Tradisi Korps Pejabat Kodam XVII/Cenderawasih, Kamis (29/1/2026). Wajah-wajah prajurit terbingkai dalam keteguhan, seolah tahu: Papua bukan sekadar wilayah tugas, tetapi medan sejarah.
Rotasi jabatan, dalam tubuh TNI AD, bukanlah ritual kosong. Ia adalah denyut organisasi—bergerak agar tetap hidup, berganti agar tetap setia pada tujuan.
“Papua adalah barometer stabilitas keamanan nasional.
Kodam XVII/Cenderawasih harus selalu siap, adaptif, dan solid
menghadapi setiap dinamika yang ada.”
— Mayjen TNI Amrin Ibrahim
Kalimat itu jatuh berat, bukan sebagai slogan, melainkan pengingat: Papua tak pernah benar-benar tenang, dan karena itu, tak boleh dijaga dengan setengah hati.
Amanah yang Datang Bersama Medan
Satu per satu, nama-nama pejabat baru diperkenalkan—bukan sekadar sebagai perwira, melainkan sebagai penjaga kepercayaan negara di tanah paling timur republik ini.
Mereka adalah Kolonel Inf Puji Hartono, S.I.P., Kolonel Czi Slamet Santoso, S.E., Kolonel Arm Beni Sutrisno, S.Sos., Kolonel Inf Arens France George A., dan Letkol Inf Edi Purwoko.
Kepada mereka, Pangdam menitipkan pesan yang lebih dalam dari sekadar perintah kedinasan: pahami Papua, bukan hanya lewat peta operasi, tetapi lewat denyut masyarakatnya, adatnya, dan luka-luka panjang yang membentuknya.
“Jabatan adalah amanah.
Jangan sia-siakan kepercayaan negara.
Laksanakan dengan tanggung jawab dan dedikasi.”
Di Papua, kata amanah bukan retorika. Ia berarti kesiapan untuk hidup berdampingan dengan kompleksitas—alam yang keras, sejarah yang berlapis, dan rakyat yang ingin dipahami, bukan sekadar diamankan.
Pergantian, Bukan Perpisahan
Prosesi sertijab berlangsung khidmat.
Aspers Kasdam XVII/Cenderawasih resmi berpindah dari Kolonel Inf Harrisal Ismail Subing, S.Sos. kepada Kolonel Arm Beni Sutrisno, S.Sos.
Sementara jabatan Kajasdam XVII/Cenderawasih diserahterimakan dari Kolonel Inf Dominggus Lopes, S.Sos. kepada Letkol Inf Edi Purwoko.
Tak ada kesan perpisahan yang sentimentil. Yang ada hanyalah kesinambungan: satu tugas selesai, tugas lain menanti.
Pangdam menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pejabat lama—mereka yang telah menanam jejak pengabdian di Kodam XVII/Cenderawasih—seraya mengiringi langkah mereka menuju satuan baru dengan doa dan hormat.
Papua, dan Mereka yang Bersumpah Menjaganya
Acara itu turut dihadiri Brigjen TNI Thevi A. Zebua, S.E., M.M. (Kasdam XVII/Cen), Brigjen TNI Sukamdi, S.I.P. (Kapoksahli Pangdam XVII/Cen), Brigjen TNI Endra Saputra Kusuma Z. R., S.E. (Danrindam XVII/Cen), para Asisten Kasdam, serta Dan/Kabalakdam XVII/Cenderawasih.
Di luar aula, Jayapura tetap berjalan dengan ritmenya sendiri. Tapi di dalam ruangan itu, sejarah kecil baru saja ditulis—tentang jabatan yang berganti, tentang kesetiaan yang tetap.
Di Tanah Papua, pengabdian tak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berpindah tangan, lalu dilanjutkan—dengan disiplin, dengan senyap, dan dengan keberanian yang tak selalu terlihat.


















