Catatan Puskesmas Atuka tentang ISPA, Lingkungan, dan Tubuh-Tubuh yang Bertahan
TIMIKA, {LINTASTIMOR.ID} —
Di ruang tunggu Puskesmas Atuka, suara batuk terdengar seperti irama yang tak pernah benar-benar berhenti. Ada anak-anak dengan hidung memerah, ibu-ibu yang mengipas dada, hingga lelaki dewasa yang menahan sesak sambil menunduk. Tahun 2025 meninggalkan jejak yang tidak ringan: 6.509 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat di pusat layanan kesehatan ini. Angka itu bukan sekadar statistik—ia adalah napas yang tersengal, hari kerja yang terpotong, dan tubuh-tubuh yang diuji daya tahannya.
Kepala Puskesmas Atuka, Julia Tahitu, menyebut lonjakan kasus ISPA sebagai sinyal keras tentang hubungan manusia dan lingkungannya. Dari lima kampung yang berada dalam wilayah pelayanan, sebagian besar pasien datang dengan keluhan serupa: batuk berkepanjangan, pilek berat, demam, dan sesak napas.
“ISPA tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari lingkungan yang diabaikan dan kebiasaan yang dianggap sepele,” ujar Julia Tahitu, Kamis (29/01/2026).
Lingkungan yang padat, sirkulasi udara yang buruk, hingga kebiasaan hidup yang belum sepenuhnya bersih dan sehat menjadi faktor yang saling bertaut. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yang seharusnya menjadi benteng pertama, masih belum sepenuhnya mengakar di sebagian masyarakat.
Namun, di balik angka ribuan itu, ada kerja sunyi yang terus berjalan. Petugas kesehatan tidak hanya menunggu pasien datang. Mereka mendatangi kampung-kampung, menggelar penyuluhan, mengetuk pintu rumah, dan menjelaskan ulang hal-hal paling dasar: pentingnya kebersihan lingkungan, ventilasi rumah, hingga kebiasaan mencuci tangan.
“Kami tidak hanya mengobati, tapi mencoba mencegah. Edukasi adalah obat jangka panjang,” kata Julia, dengan nada yang lebih menyerupai harapan daripada keluhan.
Untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses, empat Puskesmas Pembantu (Pustu) dioptimalkan. Dari sanalah layanan bergerak mendekati warga—memotong jarak geografis yang sering kali menjadi penghalang kesehatan. Obat-obatan disiapkan, fasilitas diperkuat, dan tenaga kesehatan terus digenjot agar respons tetap cepat.
ISPA, di Atuka, akhirnya bukan hanya soal penyakit pernapasan. Ia adalah cermin tentang relasi manusia dengan ruang hidupnya. Ketika lingkungan dibiarkan, tubuh akan berbicara—melalui batuk, sesak, dan demam yang berulang.
Dan di Puskesmas Atuka, setiap hari, tubuh-tubuh itu datang. Mencari udara yang lebih lega. Mencari perhatian. Mencari kesembuhan.


















