Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaKabupaten MappiKabupaten MimikaPeristiwaPolkam

Dari Kampung ke Kesadaran: Ketika Partisipasi Menjadi Nafas Sehat Papua

79
×

Dari Kampung ke Kesadaran: Ketika Partisipasi Menjadi Nafas Sehat Papua

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID—
Di sebuah ruang pertemuan Hotel Swiss-Belinn Timika, pagi terasa berbeda. Bukan karena pendingin ruangan atau meja-meja rapi berlapis taplak putih, melainkan oleh satu kata yang terus bergaung: partisipasi. Kata itu bukan sekadar konsep, melainkan ikhtiar panjang—tentang manusia, kampung, dan kesadaran menjaga hidup.

Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI), selama tiga hari—28 hingga 30 Januari 2026—menggelar Pelatihan Community Participation bagi para petugas lapangan Program Kampung Sehat. Pelatihan ini bukan sekadar transfer pengetahuan teknis, melainkan proses menanamkan cara pandang baru: masyarakat bukan objek, melainkan subjek perubahan.

Example 300x600

Di sinilah kisah itu dimulai.

Belajar Mendengar, Bukan Sekadar Mengarahkan

Program Kampung Sehat telah berjalan. Laporan ada, angka terhitung, dan aktivitas tercatat rapi. Namun YPMAK membaca sesuatu yang lebih sunyi: partisipasi masyarakat belum sepenuhnya hidup.

Karena itu, pelatihan ini dirancang bukan untuk menambah instruksi, melainkan memperdalam kemampuan petugas lapangan dalam mendengar, merangkul, dan membangkitkan.

“Pelatihan ini kami rancang untuk memperkuat pemahaman para mitra pelaksana agar mampu melibatkan masyarakat secara utuh—tokoh kampung, tokoh agama, hingga pemuda,”
ujar Project Manager Yayasan Care Peduli (YCP), Tengku Rodhan.

Tiga mitra pelaksana Program Kampung Sehat duduk bersama, berdiskusi, berdebat, dan merefleksikan pengalaman lapangan. Mereka belajar bahwa perubahan perilaku tidak lahir dari poster dan spanduk semata, tetapi dari kepercayaan yang tumbuh perlahan.

Dari Objek Menjadi Penggerak

Pada tahun pertama, Program Kampung Sehat masih berhadapan dengan tantangan klasik: masyarakat hadir, tetapi belum sepenuhnya terlibat. Kegiatan berjalan, namun kesadaran belum berakar.

Tahun kedua menjadi titik balik.

“Kami tidak ingin masyarakat hanya menerima. Mereka harus menjadi penggerak, bahkan penjaga nilai kesehatan itu sendiri,”
kata Tengku Rodhan, dengan nada yang lebih reflektif.

Pelatihan ini mendorong petugas lapangan agar mampu mengantar kemandirian kampung—di mana tokoh adat berbicara, pemuda bergerak, dan warga saling mengingatkan tentang sanitasi, lingkungan bersih, serta pola hidup sehat.

Kemandirian bukan berarti ditinggalkan, tetapi didampingi hingga mampu berdiri sendiri.

18 Kampung, Satu Harapan Bersama

Saat ini, Program Kampung Sehat mendampingi 18 kampung. Setiap kampung memiliki cerita, tantangan, dan irama sosial yang berbeda. Ada kampung yang cepat menyerap gagasan, ada pula yang memerlukan pendekatan lebih sabar dan personal.

YPMAK menatap ke depan dengan target realistis namun bermakna:
dua hingga empat kampung diharapkan mampu menjadi model kampung mandiri isu kesehatan pada akhir 2026.

Bukan kampung sempurna, melainkan kampung yang sadar—bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama, bukan proyek sesaat.

Menanam Kesadaran, Memanen Masa Depan

Pelatihan community participation ini adalah kerja sunyi. Tidak selalu terlihat hasilnya hari ini atau esok. Namun di situlah kekuatannya: menanam kesadaran jangka panjang.

Di balik ruang hotel yang tertutup, sesungguhnya sedang dibuka pintu-pintu kampung. Pintu menuju perubahan perilaku, kepercayaan diri masyarakat, dan masa depan yang lebih sehat—lahir dari partisipasi, bukan paksaan.

Karena di Papua, kesehatan bukan sekadar soal layanan.
Ia adalah soal relasi, penghormatan, dan rasa memiliki.

Dan dari kampung-kampung itulah, harapan terus disemai.

Example 300250