Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupPeristiwa

Di Bawah Kubah Sasi, Tiga Janji Kekal Diikrarkan

196
×

Di Bawah Kubah Sasi, Tiga Janji Kekal Diikrarkan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MALAKA |LINTASTIMOR.ID]-Pagi di Sasi tidak gaduh.
Angin bergerak pelan, seolah tahu hari itu bukan hari biasa. Di halaman Gereja Paroki Santo Antonius Padua, lonceng berdentang dengan nada yang lebih dalam—memanggil iman, mengumpulkan doa, menyatukan harap.

Rabu, 28 Januari 2026, umat datang bukan hanya membawa tubuh, tetapi juga kenangan, air mata, dan rasa syukur yang tak selalu mampu dirumuskan dengan kata. Dari bangku-bangku kayu gereja tua itu, sejarah kecil Gereja Keuskupan Atambua sedang ditulis ulang: tiga anak manusia menyerahkan hidupnya sepenuhnya untuk pelayanan.

Example 300x600

Di tengah umat, Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran (SBS) duduk dalam kesederhanaan sikap. Tidak ada pidato politik, tidak ada sorotan berlebih. Hanya kehadiran—sebagai umat, sebagai anak Gereja, sebagai saksi atas sebuah peristiwa iman yang melampaui jabatan.

Misa Pentahbisan dipimpin Uskup Keuskupan Atambua, Mgr Dominikus Saku. Suaranya tenang, namun mengandung bobot sejarah. Setiap doa, setiap gestur liturgi, seolah menegaskan bahwa imamat bukanlah kemuliaan, melainkan salib yang dipilih secara sadar.

Lalu satu per satu, mereka maju ke altar.
Berlutut.
Berbaring telungkup di lantai gereja.

Di saat Litani Para Kudus dikumandangkan, gereja seakan menahan napas. Tangis lirih terdengar. Doa bergema. Di sanalah tiga nama dipanggil bukan lagi sebagai milik diri sendiri, melainkan milik Gereja dan umat:

✝️ RP Mauritz Deki Nubatonis, OFMConv
✝️ RP Nikolaus Rufinus Nahampun, OFMConv
✝️ RP Joseph Agung Bathara Sembiring, OFMConv

Penumpangan tangan berlangsung hening—sunyi yang sakral. Dalam tradisi Gereja, momen itu bukan simbol kosong, melainkan peralihan hidup: dari rencana pribadi menuju ketaatan total; dari mimpi manusia menuju kehendak Ilahi.

Di bangku umat, wajah-wajah menua oleh doa panjang tampak berkaca-kaca. Barangkali mereka mengingat anak yang dahulu dilepas masuk biara, atau doa-doa malam yang tak pernah diumumkan ke siapa pun. Hari itu, doa-doa itu menjelma jawaban.

Bagi SBS, kehadiran di Misa Pentahbisan ini adalah pengakuan sunyi bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari jalan, jembatan, atau angka statistik. Ada pembangunan yang lebih sunyi, tetapi lebih tahan lama: pembangunan iman dan moral manusia.

Ketika Misa usai dan umat saling berjabat tangan, Sasi tidak kembali seperti semula. Ada sesuatu yang tinggal—sebuah keyakinan bahwa di tengah dunia yang gaduh oleh kepentingan, masih ada orang-orang yang memilih diam, melayani, dan setia.

Di bawah kubah gereja itu, tiga janji kekal telah diikrarkan.
Dan iman, seperti pagi di Sasi, terus bertumbuh—pelan, hening, tetapi pasti.

Iman bertumbuh. Pelayanan berlanjut.

 

Example 300250