SURABAYA | LINTASTIMOR.ID —
Di sebuah bengkel pelatihan berlantai licin dan mesin-mesin berkilau, anak-anak Papua berdiri sedikit lebih lama. Mata mereka menyusuri panel-panel digital, suara alat berdesing halus, dan ritme kerja yang bergerak cepat—seperti masa depan yang selama ini terasa jauh.
Selasa, 27 Januari 2026, SMK PK Negeri 1 Teknologi Rekayasa Mimika menjejakkan langkah penting di UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Surabaya. Sebuah perjalanan yang bukan sekadar kunjungan institusional, melainkan ikhtiar sunyi untuk menjembatani jurang keterampilan yang selama ini memisahkan tanah Papua dan pusat industri nasional.
Dalam rilis yang diterima redaksi, Kepala SMK PK Negeri 1 Mimika, Drs. Selsius E. Aron, M.Pd, menyebut pertemuan ini sebagai awal dari rencana besar: meningkatkan kompetensi siswa Orang Asli Papua (OAP) melalui pelatihan intensif berbasis standar industri.
“Kami datang untuk belajar, dan untuk membuka jalan,” ujarnya lirih namun tegas.
Belajar di Tempat Mesin Berbicara
Rencana yang dibahas tak main-main. Siswa kelas XII dari berbagai jurusan—khusus OAP—akan mengikuti program upgrade skill selama dua hingga tiga bulan di BLK Surabaya. Pelatihan dijadwalkan berlangsung April hingga Juni 2026, setelah ujian sekolah, sembari menunggu pencairan dana BOSDA dari Provinsi Papua Tengah.
Jika semua berjalan sesuai rencana, SMK Mimika akan kembali ke Surabaya untuk menandatangani nota kesepahaman (MoU). Bagi sekolah di ujung timur Indonesia itu, MoU bukan sekadar dokumen, melainkan janji pada masa depan murid-muridnya.
“Anak-anak ini jangan hanya pulang membawa ijazah,” kata Selsius.
“Mereka harus membawa sertifikat kompetensi—sesuatu yang diakui dunia kerja.”
Ijazah, Sertifikat, dan Harapan yang Lebih Jauh
Program magang di BLK Surabaya diharapkan memberi bekal lebih dari sekadar keterampilan teknis. Sertifikat kompetensi menjadi kunci: membuka pintu kerja, memperpendek antrean pengangguran, bahkan memantik keberanian untuk menciptakan usaha sendiri.
Lebih jauh lagi, SMK Mimika menjajaki peluang bagi siswa OAP berprestasi untuk menembus pasar kerja global. Korea Selatan dan Jepang disebut sebagai tujuan potensial—negeri yang membutuhkan tenaga terampil, disiplin, dan tersertifikasi.
“Antara Bumi dan Langit”
Perbedaan fasilitas belajar antara Mimika dan Jawa diakui tanpa tedeng aling-aling.
“Antara bumi dan langit,” ujar salah satu perwakilan sekolah.
“Di sini sudah industri 4.0. Di Papua—terutama Mimika—kami masih merayap.”
Kalimat itu bukan keluhan, melainkan pengakuan jujur tentang kesenjangan struktural. Mesin modern, kurikulum industri, dan ekosistem pelatihan yang matang di Jawa menjadi cermin pahit bagi sekolah-sekolah di Papua. Namun justru dari cermin itulah lahir tekad.
Melawan Kegalauan Lulusan
Bagi SMK Mimika, kerja sama ini adalah terobosan. Upaya konkret agar lulusan SMK OAP tidak tersesat dalam kegalauan pasca-sekolah, tidak berhenti pada ijazah yang menggantung di dinding, tetapi memiliki arah hidup yang bisa digenggam dan dikembangkan.
“Kami ingin anak-anak Papua tahu,” pungkas Selsius,
“bahwa masa depan tidak selalu harus jauh. Kadang, ia hanya butuh satu pintu yang dibuka.”
Dan di Surabaya, di antara suara mesin dan bau logam, pintu itu mulai berderit terbuka—pelan, namun pasti.


















