Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaKesehatanNasionalPolkam

Di Mimika, Kesehatan Tak Lagi Janji

62
×

Di Mimika, Kesehatan Tak Lagi Janji

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Tiga Kali UHC Award dan Jalan Panjang Menuju 100 Persen JKN

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID
Pagi itu, Jakarta belum sepenuhnya bangun dari riuhnya. Namun di sebuah ruang megah di JIExpo Kemayoran, sebuah nama kembali dipanggil dengan nada kebanggaan: Kabupaten Mimika.

Example 300x600

Untuk ketiga kalinya.

Di antara deret daerah dari seluruh Indonesia, Mimika kembali melangkah ke panggung nasional, membawa satu pesan sederhana namun berat makna: kesehatan bukan privilese, melainkan hak.

Universal Health Coverage (UHC) Award 2026 kembali singgah di tangan Pemerintah Kabupaten Mimika—sebuah pengakuan atas kerja panjang, kebijakan yang konsisten, dan keberpihakan yang nyata pada warga.

Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhaimin Iskandar, bersama Menteri Kesehatan dan Direktur Utama BPJS Kesehatan. Di barisan depan, Bupati Mimika Johannes Rettob berdiri tenang. Tak berlebihan, tak euforia—seperti seseorang yang tahu: ini bukan garis akhir, melainkan penanda perjalanan.

Angka yang Bicara, Kebijakan yang Bernyawa

UHC kategori Madya yang diraih Mimika bukan sekadar label administratif. Di baliknya, terdapat angka-angka yang menyimpan cerita manusia.

98 persen penduduk telah tercakup JKN.
89 persen di antaranya aktif sebagai peserta.
Dan pemerintah daerah telah memenuhi 25 persen pembiayaan dari jumlah penduduk.

Angka-angka itu, bagi sebagian daerah, mungkin sekadar statistik. Namun di Mimika—wilayah dengan tantangan geografis, sosial, dan demografis yang tak sederhana—ia adalah hasil dari keberanian mengambil keputusan politik anggaran.

“UHC kategori Madya ini menunjukkan Mimika berada di jalur yang tepat,” ujar Johannes Rettob kepada awak media, sesaat setelah menerima penghargaan.

Nada bicaranya datar, namun isinya tegas.

“Target kami jelas. Tahun 2027 harus naik ke kategori Utama. Dengan itu, pelayanan kesehatan 100 persen gratis harus terwujud.”

Target 2027: Kesehatan Tanpa Tembok

Bagi Rettob, UHC bukan sekadar kepesertaan BPJS. Ia adalah ekosistem—tentang rumah sakit yang berfungsi, puskesmas yang hidup, tenaga medis yang hadir tepat waktu, dan masyarakat yang tidak lagi menunda berobat karena takut biaya.

“Target kita adalah membuat masyarakat Mimika sehat dan sejahtera. Itu artinya kami berkonsentrasi penuh pada pelayanan kesehatan terbaik,” katanya.

Ia menyebut visi itu sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, juga visi pembangunan Kabupaten Mimika. Tetapi lebih dari itu, visi ini lahir dari realitas lapangan: ketika sakit tak boleh lagi menjadi awal kemiskinan baru.

Konsistensi yang Tak Datang Seketika

Prestasi 2026 bukan kejutan. Ia adalah kelanjutan.

Tahun 2023, Mimika pertama kali menerima UHC Award—sebuah titik awal yang membuktikan komitmen.
Tahun 2024, penghargaan itu dipertahankan, diserahkan di TMII Jakarta kepada Johannes Rettob yang kala itu menjabat sebagai Plt. Bupati. Saat itu, kepesertaan BPJS Kesehatan telah menembus 95 persen.

Kini, tahun 2026, penghargaan ketiga hadir sebagai penegasan: ini bukan kebetulan.

Di Balik Panggung, Ada Kerja Sunyi

Keberhasilan ini tidak berdiri sendiri. Ia disokong oleh sinergi lintas sektor, dukungan anggaran daerah, serta kerja teknis BPJS Kesehatan. Kepala Cabang BPJS Kesehatan Mimika, Ernesto Felix, turut mendampingi Bupati saat menerima penghargaan—sebuah simbol kolaborasi yang tak selalu terlihat publik.

Menariknya, keberhasilan Mimika juga diperkuat oleh capaian Provinsi Papua Tengah yang meraih UHC kategori Utama. Sebuah ironi yang indah: dari wilayah yang kerap dipandang tertinggal, justru lahir contoh keberlanjutan kebijakan kesehatan.

Lebih dari Piala, Ini Tentang Hidup

UHC Award bukan akhir cerita. Ia adalah pengingat.

Bahwa di rumah-rumah sederhana Mimika, ada ibu yang tak lagi menunda periksa.
Ada anak yang bisa dirawat tanpa menjual tanah.
Ada lansia yang tidak lagi memilih antara obat dan makan.

Pemerintah Kabupaten Mimika berharap, penghargaan ini tak berhenti sebagai prestasi kelembagaan, tetapi berubah menjadi kualitas hidup yang lebih adil, lebih inklusif, dan lebih manusiawi.

Dan di tengah panggung besar Jakarta, Mimika seolah berbisik lirih namun yakin:

Kesehatan bukan sekadar program. Ia adalah keberanian negara hadir, sampai ke tubuh warganya.

Example 300250