Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaKabupaten MimikaKesehatanNasional

Di Balik Angka, Ada Tubuh-Tubuh yang Menunggu Sehat

83
×

Di Balik Angka, Ada Tubuh-Tubuh yang Menunggu Sehat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kampung Sehat, Data Terpadu, dan Ikhtiar Sunyi di Tanah Mimika

TIMIKA |LINTASTIMOR.ID
Di Mimika, kesehatan bukan sekadar deret angka di lembar laporan. Ia adalah napas ibu yang tertahan di beranda rumah papan, demam anak yang datang berulang tanpa nama penyakit yang pasti, dan perjalanan panjang dari kampung ke puskesmas yang sering kali berakhir dengan catatan tak terbaca. Dari ruang-ruang sunyi itulah Program Kampung Sehat berangkat—menyusuri celah antara data dan manusia.

Example 300x600

Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), pengelola Dana Kemitraan PT Freeport Indonesia (PTFI), bersama Yayasan Care Peduli (YCP), memilih jalan yang jarang disorot: merapikan data. Bukan kerja gemerlap, melainkan kerja dasar—sunyi namun menentukan—yang kini disinergikan dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika. Sebab di Mimika, menyembuhkan sering kali dimulai dari menyatukan cerita.

Kick-Off Tahun Kedua Program Kampung Sehat di Hotel Swiss-Belinn Timika, Selasa (27/1/2026), menjadi penanda arah baru. Hadir Yayasan Ekologi Papua, Yayasan Papua Lestari, dan Yayasan RUMSRAM—para penjaga lapangan yang mengetahui bahwa kesehatan tidak pernah berdiri sendiri; ia bertaut dengan lingkungan, perilaku, dan ingatan kampung.

“Dengan data yang terpadu, kita bisa lebih akurat menentukan prioritas dan memberi pelayanan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,”
Tengku Rodhan, Project Manager Yayasan Care Peduli.

Bagi Tengku Rodhan, data bukanlah statistik dingin. Ia adalah peta empati—alat untuk melihat siapa yang terlewat, penyakit apa yang berulang, dan intervensi mana yang selama ini tak tepat sasaran. Karena itu, YCP memperkuat kolaborasi dengan Dinkes Mimika melalui Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu): menyelaraskan pelaporan pemeriksaan pasien, layanan kesehatan primer, hingga pemetaan penyakit yang muncul dari tanah dan musim yang sama.

“Koordinasi yang kuat itu mutlak. Laporan Program Kampung Sehat harus berjalan seirama dengan Puskesmas dan Pustu, agar Mimika punya satu wajah data kesehatan yang utuh,” ujarnya.

Namun menyatukan data adalah pekerjaan yang menuntut kesabaran. Tantangannya berlapis: perbedaan format, jarak geografis, hingga kebiasaan pencatatan yang tak seragam antar-yayasan pelaksana dan Dinkes. Untuk itu, YCP menginisiasi pertemuan berkala—setiap tiga dan enam bulan—sebagai ruang temu antara lapangan dan kebijakan.

“Kami ingin data bertemu di tingkat paling dasar: kampung. Di sanalah kebenaran kesehatan bermula,” tambah Tengku.

Pertemuan itu bukan sekadar rapat. Ia menjadi ruang memilah prioritas: penyakit mana yang perlu ditangani bersama, intervensi apa yang harus disatukan, dan bagaimana publikasi data kesehatan Mimika disajikan secara terintegrasi—agar kebijakan lahir dari realitas, bukan asumsi.

“Ini bukan tentang melapor. Ini tentang menyajikan Mimika apa adanya—agar kebijakan punya pijakan yang jujur dan efektif,” pungkasnya.

Di Mimika, Program Kampung Sehat bergerak pelan namun pasti. Ia merajut angka dengan kehidupan, laporan dengan tubuh-tubuh yang menunggu pulih. Dan ketika data akhirnya menyatu, harapannya sederhana namun dalam: kesehatan yang hadir tepat di depan pintu rumah kampung—tanpa harus tersesat di antara berkas dan jarak.

 

Example 300250