JAKARTA | LINTASTIMOR.ID —
Kali Ciliwung tidak pernah benar-benar tidur. Ia terus bergerak, membawa sisa-sisa kota, kenangan, dan kadang—tanpa bisa ditolak—kehilangan manusia. Senin pagi, 26 Januari 2026, arus itu akhirnya menyerahkan satu nama: E, 19 tahun.
Tiga hari sebelumnya, Sabtu siang (24/1) pukul 13.30 WIB, E tenggelam di kawasan Gang Ambon, Kampung Melayu. Sejak saat itu, keluarga menunggu dengan doa yang tak putus, sementara sungai menyimpan rahasia paling sunyi.
Pukul 09.30 WIB, di sekitar aliran Jembatan Jalan Teluk Gong Raya, tubuh E ditemukan. Ia tidak lagi bernapas. Sungai mengembalikan yang ia ambil—dalam keheningan yang sulit dijelaskan kata-kata.
“Di kota yang sibuk menghitung waktu, ada keluarga yang menunggu tanpa jam.
Di sungai yang terus mengalir, ada harap yang akhirnya berhenti.”
Kota yang Bergerak, Tim yang Menyatu
Di sepanjang pencarian, Jakarta menunjukkan wajah lainnya: solidaritas. Tim SAR gabungan bergerak tanpa jeda—BPBD DKI Jakarta, Disgulkarmat, Basarnas, Satpol PP, hingga puluhan relawan dan organisasi kemanusiaan. Mereka menyusuri arus, memeriksa sudut-sudut jembatan, menantang lelah dan cuaca, satu tujuan: menemukan E, apa pun kondisinya.
Daftar panjang itu bukan sekadar nama lembaga. Mereka adalah tangan-tangan yang bekerja dalam senyap, napas yang disatukan oleh kemanusiaan: Respon Khatulistiwa, Sahabat Yatim, IEA, Ercom, Bazis Jakarta, SAR MTA, Semut Rescue, NU Care, Team Ambulance Repon, Laju Peduli, Indonesia Care, Redkar Jakarta Selatan dan DKI Jakarta, Manggarai Rescue, RMI, PMI, Kanangga—serta warga sekitar yang tak pernah pergi dari tepi sungai.
“Di tengah duka, kemanusiaan bergerak tanpa perlu dipanggil.
Jakarta, hari itu, berdiri sebagai satu tubuh.”
Antara Sungai dan Kehilangan
Peristiwa Kejadian Membahayakan Manusia (KMM) ini bukan sekadar catatan bencana. Ia adalah pengingat pahit bahwa sungai kota—yang kerap kita anggap biasa—menyimpan risiko nyata. Ciliwung adalah nadi Jakarta, tetapi juga bisa menjadi batas terakhir jika kewaspadaan runtuh.
BPBD DKI Jakarta kembali mengimbau masyarakat: jika menemukan atau mengalami keadaan darurat, segera hubungi Call Center Jakarta Siaga 112. Satu panggilan bisa menjadi perbedaan antara waktu dan kehilangan.
“Keselamatan bukan hanya urusan petugas.
Ia adalah tanggung jawab bersama—antara warga, kota, dan sungai.”
Pulang bukan dalam sorak, melainkan dalam doa. Kota kembali berdenyut, sungai terus mengalir, namun satu keluarga kini belajar hidup dengan ruang kosong yang baru. Jakarta berduka—diam-diam—dan berharap tragedi ini menjadi pelajaran yang tidak berlalu begitu saja.


















