BRIDA Mimika Menyusun Napas Awal, Menyambut Februari 2026 dengan Kerja Senyap dan Visi Panjang
TIMIKA | LINTASTIMOR.ID —
Di lantai dua Gedung B eks Kantor Perumahan dan Permukiman, sebuah Organisasi Perangkat Daerah baru mulai bernapas. Tidak dengan hiruk-pikuk seremoni, melainkan lewat kerja sunyi: membersihkan ruang, menata berkas, dan menyusun fondasi administratif. Di ruang itulah Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Mimika perlahan mempersiapkan dirinya—siap beroperasi optimal mulai Februari 2026.
Sebagai OPD baru bertipe C dengan jabatan eselon II, BRIDA Mimika masih berjalan dengan sumber daya terbatas. Namun keterbatasan itu tidak menyurutkan langkah Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BRIDA Mimika, Slamet Sutejo, untuk memastikan lembaga ini lahir dengan arah yang jelas.
“Walaupun saat ini kami masih berdua bersama Plt Sekretaris,
kami sudah ditugaskan untuk menjalankan OPD baru ini.
Dua minggu terakhir kami fokus pada pembersihan
dan persiapan internal.”
— Slamet Sutejo, Plt Kepala BRIDA Mimika
Pernyataan itu disampaikan Slamet usai apel pagi di Kantor Pusat Pemerintahan, Senin (26/1/2026). Di balik kalimat sederhana tersebut, tersimpan tekad untuk membangun institusi riset yang tidak hanya administratif, tetapi fungsional dan berdampak.
Menurut Slamet, kesiapan administrasi dan keuangan BRIDA telah dilaporkan kepada pimpinan daerah. Targetnya tegas: pelayanan kepada masyarakat harus berjalan optimal mulai Februari 2026, terutama dalam bidang riset dan inovasi daerah—sektor yang selama ini kerap berjalan terpisah dan kurang terintegrasi.
Langkah strategis pun diambil. BRIDA Mimika telah berkoordinasi dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), dan disepakati bahwa BRIDA akan bergabung dalam Mal Pelayanan Publik (MPP). Kehadiran ini diharapkan menjadi simpul integrasi layanan inovasi daerah.
“Melalui MPP, kami ingin mendampingi ide-ide inovatif baru,
membantu pengembangan inovasi daerah,
sekaligus pengurusan kekayaan intelektual
yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.”
Tak hanya soal inovasi modern, Slamet menegaskan bahwa BRIDA juga memberi ruang pada riset berbasis budaya lokal—sebuah pendekatan yang menempatkan kearifan lokal sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar objek kajian.
“Termasuk riset dan inovasi yang berkaitan
dengan aspek budaya lokal.
Dari sisi pelayanan, itu akan kami dorong
agar lebih terintegrasi.”
Mulai tahun 2026, BRIDA Mimika juga akan mengambil alih pelayanan perizinan penelitian yang sebelumnya ditangani Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol). Seluruh izin penelitian—baik untuk pelajar SMA maupun mahasiswa—akan dilayani melalui sistem satu pintu.
“Dengan sistem satu pintu,
kegiatan penelitian dan riset bisa lebih tertata.
Saat ini kami masih membahas
teknis operasionalnya.”
Untuk memastikan peran BRIDA berjalan sejalan dengan arah pembangunan daerah, diskusi lanjutan akan dilakukan bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mimika. Struktur organisasi BRIDA yang ramping—satu sekretaris, dua subbagian, dan satu bidang riset dan inovasi—menuntut kerja kolaboratif lintas sektor.
“Kolaborasi lintas sektor adalah kunci.
Kita ingin menghadirkan inovasi yang visioner,
tetapi juga praktis, aplikatif,
dan benar-benar dibutuhkan masyarakat Mimika.”
Di ruang yang sederhana itu, BRIDA Mimika menata masa depannya. Tidak dengan janji besar, tetapi dengan langkah terukur. Karena inovasi yang kuat tidak selalu lahir dari gedung megah—melainkan dari kesungguhan merawat ide, mengelola pengetahuan, dan melayani masyarakat dengan arah yang jelas.


















