Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaGaya HidupNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

Budaya Membara di Napas Serviam: Saat Generasi Muda Belu Menyalakan Masa Depan

203
×

Budaya Membara di Napas Serviam: Saat Generasi Muda Belu Menyalakan Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

ATAMBUA LINTASTIMOR.ID-Di sebuah ballroom yang hangat oleh warna, gerak, dan suara, budaya tak sekadar dipentaskan—ia dihidupkan. Sabtu siang itu, Ball Room Hotel Bahagia Atambua menjelma ruang perjumpaan antara tradisi dan masa depan. Saint Angela Cultural Day bukan hanya perayaan, melainkan pernyataan: bahwa di tangan generasi muda, nilai-nilai luhur Belu terus menyala, membara, dan memberi arah.

Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH, hadir bukan sekadar sebagai tamu kehormatan, melainkan saksi sekaligus penguat denyut kebudayaan yang bernafas Serviam—aku melayani. Tema “Budaya Membara, Generasi Menginspirasi dalam Napas Serviam” menemukan maknanya di sini: ketika seni, etika, dan tanggung jawab sosial bertemu dalam satu panggung.

Example 300x600

“Budaya yang membara bukan hanya kemeriahan,
melainkan nilai-nilai luhur yang terus dijaga, dihidupi, dan diwariskan.
Di sinilah karakter dibentuk,
dan akar kepribadian generasi muda ditanamkan.”

— Bupati Belu, Willybrodus Lay

Dalam tutur yang tenang namun tegas, Bupati Willy Lay mengingatkan bahwa budaya hidup dalam kebiasaan sehari-hari. Disiplin, etika sosial, hingga budaya antre—hal-hal sederhana yang kerap diabaikan—justru menjadi cermin kedewasaan sebuah masyarakat. Di sanalah rasa hormat, keadilan, dan ketertiban bersemi.

Ia juga menautkan kebudayaan dengan kepedulian ekologis. Mengelola sampah, mengurangi plastik, dan merawat kebersihan bukan sekadar urusan teknis, melainkan ekspresi budaya yang bermartabat.

“Lingkungan yang bersih adalah tanda masyarakat yang berbudaya.
Kepedulian kecil hari ini akan menentukan kualitas hidup kita di masa depan.”

Namun, puncak pesan itu bertaut pada satu kata kunci yang menjadi napas acara: Serviam. Melayani, kata Bupati, bukan tanda kelemahan. Ia adalah simbol kedewasaan hati, kerendahan budi, dan tanggung jawab sosial—bekal yang wajib dimiliki generasi masa depan.

Di balik panggung yang gemerlap, Bupati Willy Lay juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pendidik. Mereka adalah arsitek sunyi yang membangun manusia seutuhnya—mencerdaskan akal, menumbuhkan iman, dan mengasah kepekaan sosial anak-anak Belu.

“Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan,
tetapi tentang membentuk manusia yang berkarakter,
berbudaya, dan siap melayani.”

Pemerintah Kabupaten Belu, tegasnya, akan terus berdiri bersama pendidikan yang berakar pada budaya, kemanusiaan, dan semangat pelayanan. Saint Angela Cultural Day pun diharapkan menjadi pengalaman yang membekas—menumbuhkan cinta budaya, keberanian berkarya, dan komitmen memberi arti bagi sesama.

Di akhir sambutannya, sebuah harapan dilepaskan ke udara Atambua—ringan, namun penuh makna.

“Semoga dari sini lahir pribadi-pribadi muda yang bijaksana, berkarakter,
dan siap memberi arti bagi sesama.
Salam budaya, salam Serviam.”

Dan siang itu, budaya memang membara. Bukan untuk menghanguskan, melainkan untuk menerangi—menjadi api kecil yang menuntun generasi muda Belu melangkah ke masa depan dengan jati diri yang utuh.

Example 300250