Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupPeristiwaPolkam

Menempa Berlian di Tanah Malaka

356
×

Menempa Berlian di Tanah Malaka

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ketika Kepemimpinan Tak Sekadar Memerintah, Tapi Mendidik

MALAKA |LINTASTIMOR.ID  —Di sebuah ruang kerja yang tak pernah sunyi dari percakapan ide dan disiplin waktu, kepemimpinan menemukan maknanya yang paling hakiki. Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran, tidak hadir sebagai penguasa meja komando, melainkan sebagai pendidik yang menyalakan cahaya pengetahuan di benak para aparatur sipil negara.

Example 300x600

Jumat, 23 Januari 2026, menjadi saksi bagaimana pembangunan sumber daya manusia di Malaka tidak diperlakukan sebagai rutinitas birokrasi, tetapi sebagai proses penempaan karakter. Ilmu pengetahuan dijadikan fondasi, bukan jargon. Arahan bukan sekadar perintah, melainkan jembatan untuk memperluas cakrawala berpikir.

“Beliau memimpin dengan ilmu pengetahuan sebagai fondasi utama.
Tidak hanya memberi arahan, tetapi juga membagikan wawasan
agar staf mampu melihat lebih jauh dari sekadar tugas harian,”

— Rosalia Yeani Lalo, Asisten I Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Malaka

Di balik sikapnya yang hangat dan akrab, Stefanus Bria Seran dikenal tegas dan disiplin. Ketegasan itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk memastikan bahwa aparatur Malaka tidak tumbuh sebagai batu biasa—keras, diam, dan tak bernilai—melainkan sebagai berlian: ditempa, diasah, dan berkilau karena kualitas.

“Disiplin beliau lahir dari niat mencetak aparatur bernilai.
Bukan sekadar bekerja, tetapi memberi arti bagi kemajuan Malaka,”

— Rosalia Yeani Lalo

Dalam kepemimpinan seperti ini, perhatian dan ketegasan bukanlah dua kutub yang saling meniadakan. Keduanya berpadu menjadi kombinasi langka—kepedulian yang manusiawi dan disiplin yang mendewasakan. Aparatur tidak hanya dituntut cakap secara administratif, tetapi juga matang secara intelektual dan etis.

Pembangunan SDM di Malaka pun bergerak melampaui laporan dan grafik. Ia menjelma menjadi proses transformasi: dari kebiasaan lama menuju kualitas unggul, dari rutinitas menuju kesadaran, dari sekadar hadir di kantor menuju tanggung jawab moral sebagai pelayan publik.

Di tangan pemimpin yang memilih menempa ketimbang memoles, Malaka sedang menyiapkan berlian-berlian terbaiknya—diam-diam, perlahan, namun pasti berkilau di masa depan.

 

Example 300250