Ketika Green Policing Menyapa Generasi Gen Z di SMA Negeri 1 Tempuling
TEMPULING |LINTASTIMOR.ID-Pagi di Tempuling tak sekadar dibuka oleh deru sepeda motor pelajar dan suara bel sekolah. Kamis itu, 22 Januari 2026, halaman SMA Negeri 1 Tempuling menjadi ruang belajar yang berbeda: tanah digemburkan, bibit pohon disiapkan, dan harapan ditanam bersama. Di sanalah Polsek Tempuling hadir—bukan dengan sirene, melainkan dengan pesan tentang masa depan.
Di bawah langit Indragiri Hilir yang teduh, program Green Policing berpadu dengan penyuluhan lingkungan hidup dan pencegahan kenakalan remaja. Sebuah pendekatan lembut namun bermakna, menyentuh akal sehat dan nurani generasi Gen Z—mereka yang kelak mewarisi hutan, sungai, dan nilai-nilai sosial masyarakat Tempuling.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.30 WIB itu menghadirkan Kapolsek Tempuling IPTU Delni Atma Saputra, S.H., M.H., didampingi AIPDA Syarwani Syahril dan AIPDA Dodi Syahputra. Kehadiran mereka disambut hangat Kepala SMA Negeri 1 Tempuling Syamsirwan, S.Pd., M.Si., majelis guru, Ketua Gerakan Remaja Tempuling Aripin Ilham, serta ratusan siswa-siswi yang memenuhi halaman sekolah.
Pohon sebagai Bahasa Moral
Penanaman pohon menjadi pembuka—sebuah simbol yang sederhana namun sarat makna. Tangan aparat kepolisian, guru, dan pelajar bersatu menimbun tanah di akar bibit muda. Tak ada jarak struktural. Yang ada hanyalah pesan diam-diam: menjaga lingkungan adalah kerja bersama.
“Pohon ini bukan sekadar tanaman,”
ujar IPTU Delni Atma Saputra dengan nada tenang,
“ia adalah pengingat bahwa masa depan harus dirawat sejak sekarang.”
Dalam arahannya, Kapolsek menjelaskan bahwa Green Policing bukan sekadar program institusional, melainkan gerakan kesadaran. Kepedulian terhadap lingkungan, menurutnya, harus tumbuh menjadi karakter—bukan paksaan, melainkan kebiasaan yang lahir dari pemahaman.
Ia mengaitkan pesan itu dengan falsafah lokal “Melindungi Tuah Menjaga Marwah”. Tuah dimaknai sebagai kekayaan alam dan budaya yang diwariskan, sementara marwah adalah identitas, kehormatan, dan wibawa masyarakat Tempuling yang mesti dijaga bersama.
Sekolah, Ruang Aman bagi Semua
Dari lingkungan, pesan beralih ke isu yang lebih dekat dengan dunia remaja: kenakalan remaja dan bahaya bullying. Dengan bahasa yang tidak menggurui, Kapolsek mengajak para siswa memahami dampak nyata dari perundungan—luka yang tak selalu terlihat, namun membekas lama di jiwa korban.
“Tidak ada prestasi yang lahir dari merendahkan orang lain,”
tegasnya, disambut hening yang penuh perhatian.
Ia mengingatkan pentingnya memilih pergaulan, menjaga etika di media sosial, serta berani berkata tidak pada kekerasan verbal maupun fisik. Sekolah, katanya, harus menjadi rumah kedua—tempat setiap anak merasa aman, dihargai, dan tumbuh dengan percaya diri.
Kepala SMA Negeri 1 Tempuling, Syamsirwan, menyampaikan apresiasi atas kegiatan tersebut. Baginya, kehadiran Polsek Tempuling bukan hanya memberi edukasi hukum, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan yang relevan dengan tantangan zaman.
Dialog, Bukan Monolog
Suasana semakin hidup saat sesi tanya jawab dibuka. Para siswa mengajukan pertanyaan—tentang lingkungan, pergaulan, hingga peran polisi di tengah masyarakat. Dialog itu menjadi penutup yang manis: tidak ada sekat, tidak ada jarak, hanya percakapan setara tentang masa depan.
Menjelang pukul 12.00 WIB, kegiatan ditutup dengan foto bersama. Wajah-wajah muda tampak cerah. Pohon-pohon kecil berdiri tegak di halaman sekolah, seolah berjanji akan tumbuh bersama para pelajar yang hari itu belajar tentang tanggung jawab.
Menjaga Alam, Menjaga Diri
Polsek Tempuling berharap kegiatan ini menjadi benih kesadaran—bahwa mencintai lingkungan dan menjauhi perilaku negatif adalah dua sisi dari karakter yang sama. Karakter pelajar yang peduli, berakhlak, dan siap menjadi penjaga masa depan daerahnya.
Di SMA Negeri 1 Tempuling, hari itu, pendidikan tak hanya hadir di ruang kelas. Ia tumbuh di tanah, berakar di nilai, dan menjulang sebagai harapan.


















