Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
NasionalPeristiwaPolkam

Di Ujung Negeri, Negara Menyapa Masa Depan

489
×

Di Ujung Negeri, Negara Menyapa Masa Depan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ketika Menhan Menjejak Belu dan Logistik Militer Menjadi Bahasa Harapan

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID-Pesawat itu mendarat perlahan di Bandara A.A. Bere Tallo, Atambua. Langit Belu siang itu seolah sengaja membuka dirinya—tenang, biru, dan bersahabat—seakan tahu, seorang penjaga masa depan republik baru saja tiba di beranda timur negeri.

Kamis, 22 Januari 2026, Bupati Belu Willybrodus Lay, SH, berdiri di barisan depan bersama Forkopimda Plus Kabupaten Belu, menyambut kedatangan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin. Sambutan itu bukan sekadar protokoler kenegaraan, melainkan sebuah isyarat simbolik: negara hadir, dan perbatasan tidak lagi berada di pinggir sejarah.

Example 300x600

Di tanah yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste ini, langkah Menhan terasa lebih dari sekadar kunjungan kerja. Ia adalah penegasan arah, bahwa Belu bukan hanya titik koordinat geopolitik, tetapi juga ruang tumbuh peradaban pertahanan masa depan.

“Perbatasan bukan halaman belakang republik. Di sinilah Indonesia diuji—dan dari sinilah kekuatannya bisa dilahirkan,” ujar seorang pejabat daerah, lirih namun penuh keyakinan.

Agenda utama kunjungan Menteri Pertahanan RI adalah peninjauan Kampus Fakultas Vokasi Logistik Militer (FVLM) Universitas Pertahanan Ben Mboi Republik Indonesia—sebuah institusi yang dirancang bukan hanya mencetak tenaga terampil, tetapi membangun arsitektur ketahanan bangsa dari pinggiran.

Di kampus itu, logistik tidak lagi dipahami sebatas perhitungan rantai pasok dan persediaan. Ia menjelma menjadi bahasa strategis negara, tempat disiplin, ilmu, dan pengabdian disatukan dalam satu visi: menjaga republik melalui kecerdasan dan kesiapsiagaan.

“Membangun pertahanan tidak selalu dimulai dari senjata. Ia lahir dari manusia yang terdidik, berkarakter, dan memahami medan pengabdian,” menjadi pesan yang mengalir kuat dalam setiap rangkaian kunjungan.

Bagi Kabupaten Belu, kehadiran Menteri Pertahanan RI adalah pengakuan sekaligus harapan. Pengakuan bahwa wilayah perbatasan memiliki peran strategis dalam sistem pertahanan nasional. Harapan bahwa anak-anak muda Belu kelak tidak hanya menjadi penjaga tapal batas, tetapi juga arsitek pertahanan Indonesia.

Di tengah hiruk pikuk agenda negara, ada pesan sunyi yang tertinggal di landasan bandara itu:
bahwa negara yang besar adalah negara yang menatap masa depan dari pinggirannya.

Dan di Atambua, hari itu, masa depan itu terasa sedang disusun—perlahan, pasti, dan penuh keyakinan.

 

Example 300250