TIMIKA | LINTASTIMOR.ID-
Air seharusnya sederhana. Ia mengalir, menyapa dapur, menenangkan kamar mandi, dan menjadi denyut paling dasar dari kehidupan. Namun di Mimika, air bersih justru kerap hadir sebagai cerita panjang tentang harapan yang tertunda.
Di tengah persoalan itu, Anggota DPRK Mimika, Mariunus Tandiseno, menyuarakan kegelisahan yang selama ini diam-diam hidup di rumah-rumah warga. Baginya, masalah air bersih bukan lagi isu teknis, melainkan soal keseriusan negara hadir di ruang paling privat masyarakat.
“Air bersih menurut saya baru mencapai sedikit persentase yang layak. Kita harus jujur, berapa banyak sambungan yang benar-benar sudah sampai ke rumah warga? Kenyataannya, masih sangat jauh dari standar yang diharapkan,” kata Tandiseno, Rabu (21/01/2026).
Pernyataan itu meluncur tenang, tetapi menyimpan beban berat. Sebab di balik angka dan pipa, ada realitas: jeriken yang dipikul, sumur yang mengering, dan biaya hidup yang kian mahal hanya untuk setetes air bersih.
PDAM sebagai Jalan Keluar yang Lebih Masuk Akal
Tandiseno tidak sekadar mengkritik. Ia menawarkan arah. Menurutnya, pengelolaan air bersih harus diserahkan secara serius kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) atau dikelola melalui skema pihak ketiga yang profesional, agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Program ini sudah menelan biaya yang luar biasa besar. Tapi hasilnya belum maksimal. Kalau kita mau jujur, ini harus dievaluasi total,” ujarnya.
Ia menyoroti pemandangan yang kerap ditemui di lapangan: pipa-pipa tertanam rapi, tetapi tak lagi berfungsi. Infrastruktur yang ada, namun tak mengalirkan kehidupan.
“Saya melihat banyak pipa. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar mau menjalankan program ini dengan serius? Air bersih ini sudah berjalan bertahun-tahun, tapi belum semua masyarakat bisa merasakan manfaatnya,” tegasnya.
Belajar dari Daerah Lain: Pemerintah Mengawasi, Operator Bekerja
Dalam kunjungan dan pengalamannya ke sejumlah daerah lain, Tandiseno melihat pola yang lebih sederhana dan efektif. Pengelolaan air bersih diserahkan kepada pihak ketiga atau PDAM secara penuh, sementara pemerintah daerah dan DPRD fokus pada fungsi pengawasan.
“Pemerintah Daerah bersama DPRD tinggal mengawasi. Itu lebih sehat. Lebih jelas manfaatnya, dan air benar-benar mengalir ke masyarakat,” katanya.
Ia juga mempertanyakan kualitas perencanaan dan pelaksanaan proyek air bersih di Mimika.
“Banyak pipa sudah ditanam tapi tidak bisa dipakai lagi. Apakah ini karena tidak sesuai prosedur, atau ada faktor lain? Ini harus dibuka secara jujur,” tandasnya.
Dari Pipa ke Kehidupan
Bagi Tandiseno, air bersih bukan sekadar proyek. Ia adalah arsitektur keadilan sosial—bagaimana kebijakan menyentuh dapur warga, kamar mandi anak-anak, dan martabat sebuah keluarga.
Seruannya sederhana, namun tegas: pemerintah harus lebih jeli, lebih cepat, dan lebih serius. Sebab air yang tidak mengalir bukan hanya soal teknis, tetapi soal kepercayaan publik yang perlahan mengering.
Di Mimika, pipa-pipa sudah tertanam. Kini yang ditunggu masyarakat hanyalah satu hal: air yang benar-benar mengalir, tanpa janji yang bocor di tengah jalan.


















