Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwaPolkam

Jangan Jadi Penonton Takdir: Manajemen Talenta dan Jalan Sunyi Karier ASN

116
×

Jangan Jadi Penonton Takdir: Manajemen Talenta dan Jalan Sunyi Karier ASN

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ketika birokrasi tak lagi menunggu waktu, tetapi menjemput kualitas

BATAM |LINTASTIMOR.ID

Di sebuah forum nasional yang hiruk oleh gagasan dan masa depan, suara birokrasi tak lagi datar. Ia menggema, mengusik kesadaran, dan memanggil setiap Aparatur Sipil Negara untuk bangkit dari kebiasaan lama. Di Rakornas APKASI, manajemen talenta tidak sekadar dipresentasikan sebagai sistem, melainkan ditawarkan sebagai takdir baru—takdir yang harus dijemput, bukan ditunggu.

Rosalia Yeani Lalo, S.H., Asisten I Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, menyimak dengan penuh perhatian pemaparan Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Prof. Zudan Arif Fakrulloh. Di hadapan para pemangku kebijakan daerah, satu pesan terasa paling menohok: era birokrasi berbasis waktu telah berakhir, digantikan oleh birokrasi berbasis talenta dan kinerja.

Example 300x600

“Hari ini, ASN tidak lagi dinilai dari siapa yang paling lama duduk di kursi jabatan, tetapi siapa yang paling siap memikul tanggung jawab,” demikian semangat yang ditangkap Rosalia dari forum nasional itu.

Manajemen talenta hadir sebagai wajah baru reformasi birokrasi. Bukan sekadar perangkat administratif, melainkan mekanisme keadilan yang bekerja diam-diam namun pasti, menata masa depan ASN melalui sistem merit yang objektif dan terukur.

Halloo Rekan – rekan ASN
Jangan hanya menjadi penonton.
Saatnya menjemput takdir kariermu lewat Manajemen Talenta.

Dua Misi Besar Manajemen Talenta

Dalam paparannya, Kepala BKN menegaskan bahwa manajemen talenta mengemban dua misi fundamental—keduanya menyentuh langsung jantung birokrasi.

1. Melindungi ASN dari Subjektivitas

Digitalisasi layanan kepegawaian, termasuk melalui SIASN, menjadikan setiap prestasi dan kompetensi terekam secara objektif. Tak ada lagi kerja sunyi yang terabaikan.

“Manajemen talenta adalah payung perlindungan. Ia memastikan bahwa kerja keras ASN tidak tenggelam oleh selera dan kepentingan,” ungkap Rosalia.

Di sinilah sistem merit bekerja: transparan, terukur, dan adil. Karier ASN tidak lagi bergantung pada siapa yang dekat, melainkan siapa yang layak.

2. Mengakselerasi Visi Kepala Daerah

ASN adalah mesin penggerak pemerintahan. Melalui penataan formasi yang tepat—the right man on the right place—manajemen talenta menjadi jembatan antara visi kepala daerah dan pelayanan publik yang berkualitas.

ASN yang adaptif, kompeten, dan siap berubah adalah kunci birokrasi yang melayani, bukan dilayani.

Manajemen Talenta bukan panggung, tetapi lintasan.
Ia adalah jalan tol bagi ASN berintegritas dan berprestasi.

Ajakan: Jangan Pasif

Rosalia menekankan satu hal penting: ASN tidak boleh pasif. Era baru menuntut keberanian untuk terus belajar, mengikuti mentoring, dan memperbarui kompetensi diri. Masuk ke dalam talent pool bukan lagi mimpi, melainkan strategi sadar untuk menjemput promosi dan suksesi jabatan.

“ASN hari ini harus siap menjadi pemimpin masa depan—profesional, berintegritas, dan berdampak,” tegasnya.

Manajemen talenta adalah cermin zaman. Ia memantulkan wajah baru birokrasi Indonesia—lebih jujur, lebih adil, dan lebih berorientasi pada kualitas. Bagi ASN, ini bukan sekadar kebijakan, melainkan panggilan sejarah.

Karena di era ini, birokrasi tidak menunggu waktu.
Ia menunggu orang-orang terbaik untuk melangkah maju.

 

Example 300250