Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPolkamPromosi IklanTeknologi

Atambua Menyiapkan Tempat Pulang bagi Para Pelintas Negeri

161
×

Atambua Menyiapkan Tempat Pulang bagi Para Pelintas Negeri

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Dari homestay sederhana hingga hotel yang bermimpi menjadi bintang, kota perbatasan ini pelan-pelan belajar menjadi tuan rumah yang ramah bagi dunia.

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID –
Di kota yang berdiri di garis batas negara, tempat langkah-langkah pelintas bangsa saling berpapasan, denyut pembangunan tak lagi hanya berbicara soal jalan dan bangunan. Ia kini menjelma menjadi soal keramahan, kenyamanan, dan rasa diterima.

Example 300x600

Atambua, ibu kota Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur perlahan berbenah. Penambahan hotel dan homestay oleh pihak swasta masih terus bergeliat. Bukan sekadar menambah jumlah kamar, tetapi menyiapkan ruang singgah yang manusiawi—tempat lelah bisa beristirahat, dan cerita perjalanan menemukan jeda.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Belu, Januaria Nona Alo, S.IP, menegaskan bahwa geliat sektor akomodasi ini merupakan sinyal positif bagi masa depan pariwisata perbatasan.

“Saat ini di Kota Atambua terdapat sekitar 20 hotel dan homestay berlabel melati. Semuanya terus kami bina agar ke depan dapat naik kelas, bahkan menjadi hotel berbintang,” ujarnya kepada Belu Pos, Selasa (20/01/2026).

Pembinaan itu, menurutnya, tidak semata soal bangunan megah atau jumlah kamar yang banyak. Lebih dari itu, soal sikap dan pelayanan.

“Kami mendorong agar mereka benar-benar menjadi tuan rumah terbaik bagi para tamu—pelayanan yang ramah, beretika, menjaga kebersihan, kesehatan, keindahan, dan tentu saja keamanan,” tutur Januaria.

Di kota perbatasan seperti Atambua, tamu bukan hanya wisatawan domestik. Mereka datang membawa latar budaya, kebiasaan, dan cara pandang yang beragam. Karena itu, kesiapan sumber daya manusia menjadi kunci.

“Para tamu dan wisatawan datang dengan perilaku dan budaya yang berbeda dengan kita. Maka pelayanan harus semakin adaptif, cepat, dan manusiawi—termasuk akses transportasi yang memudahkan kebutuhan mereka,” katanya.

Harapannya sederhana namun bermakna: kesan yang baik.

“Jika kesan dan pesan mereka positif, mereka akan datang kembali. Dan ketika mereka kembali, jumlahnya akan lebih banyak,” lanjutnya.

Ke depan, jumlah hotel dan homestay di Atambua diproyeksikan terus bertambah. Letaknya sebagai kota perbatasan yang berhadapan langsung dengan Negara Timor Leste menjadikan Atambua titik strategis pertumbuhan ekonomi dan pariwisata.

Saat ini, seluruh hotel di Kabupaten Belu masih berada pada kategori hotel melati. Namun arah kebijakan jelas: mendorong peningkatan standar menuju hotel berbintang, dari bintang satu hingga bintang lima—sesuai kualitas fasilitas, layanan, dan regulasi penilaian pemerintah.

Atambua mungkin belum dipenuhi hotel mewah. Namun di kota ini, harapan sedang ditata. Dari kamar-kamar sederhana, kota perbatasan ini belajar satu hal penting:
menjadi tempat singgah yang membuat orang ingin kembali.

 

Example 300250