TIMIKA, LINTASTIMOR.ID —
Di balik hiruk-pikuk pertumbuhan Mimika, ada satu ancaman sunyi yang terus bergerak: HIV-AIDS. Ia tak bersuara, namun meninggalkan jejak angka. Tahun demi tahun, data bertambah. Di sinilah Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika berdiri—di antara statistik dan nyawa manusia—memilih untuk tidak menyerah.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika terus mengintensifkan upaya pencegahan dan pengobatan HIV-AIDS secara komprehensif. Pendekatan yang dilakukan tidak semata berbasis angka, tetapi menyasar perilaku, edukasi, dan kepatuhan pengobatan sebagai kunci utama pengendalian penyakit.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Mimika, Kamaludin, menegaskan bahwa pemeriksaan HIV-AIDS kini dilakukan secara luas dan terintegrasi, mencakup masyarakat umum hingga kelompok berisiko tinggi.
“Pemeriksaan HIV-AIDS tidak hanya untuk masyarakat umum, tetapi juga kelompok berisiko, pasien Tuberkulosis, dan populasi kunci seperti pekerja seks,” ujar Kamaludin kepada Lintastimor.id, Selasa (20/1/2026).
Ia menekankan, seluruh pasien Tuberkulosis (TBC) wajib menjalani tes HIV-AIDS karena keduanya memiliki keterkaitan erat sebagai penyakit komorbid.
“HIV dan TBC itu seperti dua penyakit yang saling membuka pintu. Ketika yang satu masuk, yang lain sering menyusul,” katanya dengan nada serius.
Angka Naik, Upaya Diperluas
Sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika mencatat 489 kasus HIV-AIDS, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 451 kasus. Namun peningkatan ini, menurut Kamaludin, tidak berdiri sendiri.
“Naiknya angka ini juga karena jumlah tes kita meningkat. Tahun 2025 ada sekitar 58.220 orang yang menjalani tes HIV-AIDS,” jelasnya.
Artinya, peningkatan kasus bukan semata cerminan kegagalan, melainkan hasil dari keberanian lebih banyak warga untuk mengetahui status kesehatannya.
Secara epidemiologis, Kamaludin menyebut kondisi HIV-AIDS di Mimika masih tergolong terkendali, meski prevalensinya relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa kabupaten lain di Papua seperti Nabire, Merauke, dan Jayapura.
Perilaku Manusia, Titik Kritis Pengendalian
Di balik grafik dan laporan, Kamaludin menegaskan satu hal mendasar: perilaku manusia masih menjadi faktor utama penularan HIV-AIDS.
“Pada akhirnya, pengendalian HIV-AIDS itu kembali ke perilaku. Faktor seksual masih menjadi penyebab utama penularan,” tegasnya.
Karena itu, Dinkes Mimika tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan sejak hulu. Upaya yang dilakukan meliputi promosi kesehatan, kampanye penggunaan kondom, pelaksanaan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) bagi kelompok berisiko, hingga edukasi kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah.
Langkah ini dimaksudkan agar generasi muda tidak hanya tahu, tetapi juga berdaya untuk melindungi diri.
ARV: Obat yang Menentukan Hidup dan Mati
Dalam nada paling serius, Kamaludin mengingatkan bahwa HIV-AIDS bukan vonis mati—selama penderita patuh minum obat.
“Pasien HIV-AIDS yang tidak rutin minum obat itu sangat rentan. Hampir bisa dipastikan dia akan kena TBC, dan TBC-lah yang akan membunuhnya,” ungkapnya.
Ia menegaskan, terapi antiretroviral (ARV) bukan sekadar pengobatan, melainkan penjaga hidup. Tanpa kepatuhan, risiko infeksi oportunistik—terutama TBC—meningkat drastis dan berujung kematian.
Solusi: Jalan yang Masih Terbuka
HIV-AIDS di Mimika bukan hanya soal angka, tetapi soal pilihan: memilih tes, memilih berperilaku aman, memilih patuh berobat. Negara hadir melalui layanan kesehatan, namun keputusan terakhir tetap berada di tangan individu.
Di Mimika, perjuangan belum selesai. Namun selama pencegahan diperluas, pengobatan dijaga, dan kesadaran ditumbuhkan, harapan itu masih ada—dan terus diperjuangkan.


















