Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
BeritaNasionalPeristiwaPolkamTeknologi

Di Batam, Persahabatan Lama Menyapa Negara

38
×

Di Batam, Persahabatan Lama Menyapa Negara

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Ketika Bupati Malaka dan Kepala BKN Menyulam Harapan Birokrasi dari Jejak Masa MMuda

BATAM |LINTASTIMOR.ID-

Di sela riuh agenda kenegaraan, kadang negara menemukan wajahnya yang paling manusiawi: sebuah senyum lama, sebuah panggilan akrab, sebuah pertemuan yang tak dirancang protokol.
Begitulah yang terjadi di Kota Batam, ketika Rakernas XVII APKASI 2026 bukan sekadar forum kebijakan, melainkan ruang kenangan yang hidup kembali.

Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH, melangkah di antara hiruk-pikuk para kepala daerah se-Indonesia. Namun langkah itu berhenti sejenak, bukan oleh agenda, melainkan oleh waktu yang berputar ke masa muda.
Di hadapannya berdiri seorang sahabat lama—kini Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) RI, Prof. Zudan Arif Fakrulloh, SH., MH.

Example 300x600

Pertemuan itu berlangsung hangat di Hotel Aston Batam, Selasa (20/01/2026). Tidak ada jarak antara jabatan dan kenangan. Yang hadir bukan hanya dua pejabat negara, tetapi dua manusia yang pernah berjalan di lorong waktu yang sama, sebelum negara memberi mereka amanah besar.

Rakernas XVII APKASI 2026 sendiri mengusung tema strategis: penguatan manajemen talenta ASN, harmonisasi kebijakan kepegawaian, penataan formasi, serta digitalisasi layanan kepegawaian—sebuah upaya kolektif membangun birokrasi yang lebih profesional dan melayani.

Namun suasana menjadi berbeda ketika Prof. Zudan menyampaikan sambutan di hadapan ratusan kepala daerah. Di tengah paparan serius tentang merit system dan transformasi ASN, ia berhenti sejenak, menoleh, lalu menyapa dengan nada personal.

“Pak Bupati Malaka ini teman masa muda saya,”
ujar Prof. Zudan, disambut senyum dan riuh hangat forum.

Satu kalimat sederhana itu menjelma simbol. Bahwa di balik struktur negara yang kaku, terdapat relasi manusia yang tulus. Bahwa kekuasaan, bila bertemu persahabatan, dapat berubah menjadi jembatan—bukan sekat.

Bagi Kabupaten Malaka, pertemuan ini bukan sekadar nostalgia. Ia adalah angin segar bagi masa depan tata kelola kepegawaian daerah. Di sana terbuka ruang dialog, sinergi, dan harapan agar prinsip profesionalitas, transparansi, dan sistem merit benar-benar berakar hingga ke wilayah perbatasan.

Di hadapan tantangan birokrasi yang sering kali terasa jauh dari rakyat, pertemuan ini memberi pesan diam-diam namun kuat:
bahwa perubahan tak selalu lahir dari kebijakan besar, melainkan dari kepercayaan, hubungan, dan niat baik yang dirawat sejak lama.

Negara, pada akhirnya, bukan hanya soal regulasi dan struktur. Ia juga tentang manusia yang saling mengingat, saling menyapa, dan memilih bekerja bersama demi pelayanan publik yang lebih bermartabat.

Dan di Batam hari itu, dari persahabatan lama, lahirlah harapan baru—
birokrasi yang tak sekadar memerintah, tetapi melayani dengan hati.

Example 300250