Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Gaya HidupNasionalPeristiwa

Natal yang Tidak Dirayakan Sendiri

377
×

Natal yang Tidak Dirayakan Sendiri

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Ketika Kekuasaan Memilih Berlutut Bersama Kaum Papa

ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID
Natal tidak selalu dirayakan dengan gemerlap lampu dan meja-meja penuh hidangan. Di beberapa tempat, Natal justru hadir dalam kesunyian—di antara tangan-tangan yang terbuka, air mata yang ditahan, dan doa-doa yang tidak pernah keras suaranya.

Selasa, 6 Januari 2026, suasana itu terasa di sebuah rumah sederhana di Kota Atambua. Rosalia Yeani Lalo, S.H., Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kabupaten Malaka, memilih merayakan Natal dengan cara yang berbeda: bersama kaum papa—mereka yang sering dilupakan oleh hiruk-pikuk perayaan.

Example 300x600

Yang hadir bukan pejabat dan protokoler, melainkan orang terlantar, perempuan janda dalam kesulitan, anak yatim piatu, hingga para pemulung. Mereka duduk setara, berbagi doa dan makan, tanpa sekat jabatan.

Pelayanan yang Berjalan Lebih Lama dari Jabatan

Bagi Rosalia, kebersamaan itu bukan agenda sesaat. Ia telah 21 tahun menjalani pelayanan kasih melalui Komunitas Karitas Fraternalis—sebuah gerakan kasih persaudaraan yang berada di bawah naungan Keuskupan Atambua.

Jauh sebelum ia menjabat sebagai Asisten I Kesra, panggilan itu sudah lebih dulu hidup.

“Selain sebagai perempuan karier yang kini mengabdi sebagai Asisten Pemerintahan dan Kesra, saya juga memiliki misi khusus untuk melayani kaum papa,”
kata Rosalia Yeani Lalo dengan suara tenang.

Kalimat itu sederhana, namun mengandung satu pesan kuat: bahwa jabatan bukan awal dari pengabdian, dan kekuasaan bukan alasan untuk berhenti melayani.

Natal sebagai Etika Kehadiran

Natal bersama kaum papa bukan sekadar kegiatan religius. Ia adalah sikap etis—tentang bagaimana iman diwujudkan dalam kehadiran nyata, bukan hanya dalam simbol.

Dalam tradisi Kristiani, Natal selalu berbicara tentang Allah yang memilih lahir di pinggir—di palungan, bukan di istana. Dan di Atambua, makna itu menemukan wajahnya kembali.

Perayaan berlangsung tanpa kemewahan. Yang ada hanyalah rasa diterima, sesuatu yang sering kali lebih berharga daripada bantuan materi.

Jabatan dan Belarasa

Di tengah rutinitas birokrasi dan beban pemerintahan, apa yang dilakukan Rosalia memberi refleksi penting: bahwa jabatan publik tidak menghapus kewajiban moral, justru memperbesarnya.

Sebagai Asisten I Kesra, ia mengurusi kebijakan kesejahteraan rakyat. Namun lewat Karitas Fraternalis, ia menyentuh kesejahteraan itu dari jarak paling dekat—dari rumah ke rumah, dari satu kehidupan ke kehidupan lain.

Natal kali ini menjadi ruang perjumpaan antara iman, kekuasaan, dan kemanusiaan.

Refleksi Publik: Melayani Tanpa Sorotan

Apa yang dilakukan Rosalia Yeani Lalo bukanlah kisah heroik yang perlu dielu-elukan berlebihan. Justru di situlah kekuatannya—ia berjalan senyap, konsisten, dan setia selama dua dekade lebih.

Di tengah zaman ketika banyak pelayanan lahir karena kamera, Natal di Atambua ini mengingatkan bahwa pelayanan sejati tidak membutuhkan sorotan, cukup kesediaan untuk hadir.

Dan bagi aparatur negara, peristiwa ini menyampaikan pesan sunyi namun tegas:
bahwa kekuasaan paling bermakna bukan yang berdiri di podium,
melainkan yang duduk sejajar dengan mereka yang paling lemah.

Natal telah lewat. Namun maknanya tinggal—
di meja sederhana, di doa bersama,
dan dalam pilihan untuk tidak merayakan hidup sendirian.

 

Example 300250