Supami Lia, Stroke di Negeri Orang dan Pelajaran Kemanusiaan dari Malaysia
SERDANG |LINTASTIMOR.ID —
Di sebuah ranjang rumah sakit di Serdang, Selangor Darul Ehsan, seorang perempuan Indonesia terbaring tanpa sanak keluarga, tanpa kepastian, dan nyaris tanpa identitas yang utuh. Namanya Supami Lia. Tubuhnya lumpuh akibat stroke yang menyerang hampir seluruh bagian badannya. Namun di tengah sunyi itu, kemanusiaan tidak ikut pergi.
Sejak 5 hingga 13 Januari 2026, Hospital Sultan Idris Shah Serdang merawat Supami Lia selama sembilan hari penuh—tanpa memungut biaya sepeser pun. Tidak satu sen. Tidak satu nota tagihan. Sebuah tindakan yang melampaui batas administratif dan menyentuh inti paling dasar dari etika kemanusiaan.
Atas dasar itulah, Keluarga Besar Lembaga Human Trafficking Watch (HTW) Dewi Kholifah menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada Kerajaan Malaysia, khususnya seluruh jajaran tenaga medis dan petugas Hospital Sultan Idris Shah Serdang, atas perlakuan yang manusiawi dan bermartabat terhadap warga negara asing yang tak berwaris.
Pasien Tanpa Waris, Negara Tanpa Jejak
Supami Lia masuk rumah sakit dalam kondisi darurat. Diagnosis dokter menyatakan stroke berat. Ketika pihak rumah sakit berusaha menghubungi keluarga, satu kenyataan pahit terungkap: tidak ada waris yang dapat dihubungi.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, paspor Supami Lia diterbitkan di Kantor Imigrasi Jember, Jawa Timur. Namun dalam keterangannya, Supami Lia mengaku berasal dari Jakarta Barat dan memiliki beberapa saudara kandung yang menetap di wilayah tersebut.
Ketiadaan kontak keluarga menempatkan Supami Lia dalam posisi paling rentan—sebuah kondisi klasik yang sering dialami pekerja migran, terutama perempuan. Di titik inilah, HTW mengambil peran.
Tim HTW melakukan pelacakan, menelusuri asal-usul Supami Lia, mencoba mengurai simpul identitas yang tercerai-berai. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil.
“Kami menemukan seorang warga Indonesia yang sakit parah, tanpa waris, tanpa pelindung, dan nyaris tanpa suara. Ini bukan sekadar kasus medis, tetapi persoalan kemanusiaan,”
— Tim Human Trafficking Watch (HTW)
Refleksi: Ketika Rumah Sakit Lebih Hadir dari Negara
Kasus Supami Lia menyibak pertanyaan yang lebih besar: di mana negara ketika warganya jatuh sakit di luar negeri?
Human trafficking dan kerentanan pekerja migran bukan hanya soal sindikat gelap atau keberangkatan ilegal. Ia sering berakar pada kemiskinan struktural, lemahnya pendataan, dan minimnya atensi negara sejak pra-keberangkatan hingga pasca-kerja.
Ketika seorang pekerja migran sakit, kehilangan identitas sosial, dan tak bisa menghubungi keluarga, ia seolah menjadi manusia tanpa arsip. Dalam ruang kosong itulah, kemanusiaan diuji.
Hospital Sultan Idris Shah Serdang menunjukkan bahwa etika pelayanan publik dapat melampaui kewarganegaraan. Bahwa kemanusiaan tidak bertanya paspor apa yang dipegang pasien, melainkan apa yang dibutuhkan untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun di sisi lain, peristiwa ini menjadi cermin keras bagi pemerintah Indonesia: sistem perlindungan pekerja migran belum sepenuhnya menjangkau fase paling genting—saat mereka sakit, lemah, dan sendirian.
Seruan untuk Keluarga dan Aparatur Negara
HTW kini membuka ruang harapan. Jika ada keluarga, saudara kandung, atau kerabat Supami Lia di Jakarta Barat yang membaca berita ini, HTW mengimbau agar segera menghubungi:
Markas Lembaga Human Trafficking Watch (HTW) Malaysia
📞 +60 13-605 5999
Tujuannya adalah verifikasi data, dokumentasi, dan proses lanjutan pemulangan Supami Lia ke kampung halamannya di Jakarta Barat, Indonesia.
Supami Lia adalah satu nama, tetapi kisahnya mewakili ribuan pekerja migran yang hidup di ruang abu-abu perlindungan negara. Di saat tubuhnya tak lagi kuat bersuara, kisahnya berbicara lantang tentang siapa yang hadir ketika manusia jatuh paling lemah.
Malaysia, melalui rumah sakitnya, telah memberi contoh. Kini, publik menunggu: apakah negara asal akan menjawab panggilan kemanusiaan yang sama?


















