MIMIKA | LINTASTIMOR.ID —
Air datang tanpa undangan. Ia menggenangi rumah, memutus jalan, dan menahan denyut kehidupan warga.
Namun di Distrik Iwaka, Mimika, ketika banjir naik ke pelataran kampung, negara memilih turun ke tanah basah—menyapa, mendengar, dan menanggung kegelisahan bersama.
Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong turun langsung meninjau sejumlah titik banjir di SP 5, SP 7, SP 9, hingga Kampung Iwaka. Kunjungan ini dilakukan menyusul banjir yang mengganggu aktivitas warga dan memicu aksi pemalangan jalan poros SP 5 oleh masyarakat terdampak—sebuah isyarat bahwa kesabaran memiliki batas ketika air tak kunjung surut.
Kehadiran kedua pemimpin daerah ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah pernyataan tanggung jawab, bahwa kebijakan tidak cukup dibicarakan dari balik meja, melainkan harus diuji di lumpur dan genangan.
“Masyarakat harus tahu bahwa mereka tidak sendiri. Pemerintah hadir dan peduli,” ujar Bupati Johannes Rettob di tengah genangan, dengan nada yang lebih menyerupai janji daripada pernyataan.
Mendengar di Tengah Genangan
Di lapangan, Bupati dan Wakil Bupati mendengarkan langsung keluhan warga—tentang rumah yang terendam, aktivitas yang terhenti, hingga rasa cemas yang terus membayang setiap hujan turun. Dialog itu menjadi jembatan antara amarah yang sempat membeku dan harapan yang perlahan mencair.
Aksi pemalangan jalan, menurut pemerintah, dipahami sebagai bentuk protes sosial, bukan pembangkangan. Karena itu, pendekatan yang dipilih adalah meredakan, bukan menghakimi.
Dari Tanggap Darurat ke Solusi Jangka Panjang
Bupati Johannes Rettob menegaskan bahwa penanganan banjir tidak berhenti pada respons sesaat. Pemerintah daerah, katanya, akan membenahi penanganan darurat sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang agar peristiwa serupa tidak terus berulang seperti musim yang datang tanpa belajar dari masa lalu.
“Pemerintah akan terus bekerja, berkolaborasi, dan mencari jalan terbaik,” tegasnya.
“Keselamatan, kenyamanan, dan kesejahteraan masyarakat Mimika adalah kompas kami.”
Banjir sebagai Pengingat
Banjir di Iwaka bukan sekadar bencana alam. Ia adalah pengingat kolektif—tentang tata ruang, drainase, dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Di titik ini, kehadiran pemimpin menjadi simbol bahwa solusi tidak bisa ditunda, dan penderitaan warga tidak boleh dinormalisasi.
Seperti air yang mencari jalan terendah, harapan warga pun mencari tempat untuk berlabuh. Dan hari itu, di Iwaka, harapan menemukan bentuknya: pemimpin yang hadir, mendengar, dan berjanji untuk kembali—bukan hanya dengan kata, tetapi dengan kerja nyata.


















