Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Hukum & KriminalKabupaten MimikaNasionalPeristiwaPolkam

Ketika Amarah Menurunkan Suara: Kwamki Narama Melangkah ke Meja Damai

150
×

Ketika Amarah Menurunkan Suara: Kwamki Narama Melangkah ke Meja Damai

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

MIMIKA | LINTASTIMOR.ID
Di tanah Kwamki Narama, tempat emosi sempat beradu lebih keras daripada kata-kata, kini muncul isyarat yang menenangkan: dua pihak yang bertikai sepakat membuka jalan damai. Seperti hujan pertama setelah musim kering panjang, kesediaan itu membawa harapan bahwa luka sosial bisa disembuhkan, bukan diwariskan.

Upaya penyelesaian konflik yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Mimika menunjukkan perkembangan signifikan. Keluarga Dang dan Newegalen, dua pihak yang selama ini terlibat pertikaian, menyatakan itikad baik untuk berdamai—sebuah keputusan yang tak hanya menyangkut dua keluarga, tetapi juga menyentuh rasa aman masyarakat luas.

Example 300x600

Kesepakatan awal tersebut disampaikan Bupati Mimika Johannes Rettob usai pertemuan bersama Wakil Bupati Emanuel Kemong, Rabu (7/1/2026), di Rumah Pendopo. Pertemuan itu turut dihadiri Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal, Sekda Puncak Nenu Tabuni, serta sejumlah anggota DPRK, menandai keterlibatan lintas wilayah dan institusi dalam merawat perdamaian.

“Kedua belah pihak—keluarga Dang dan Newegalen—telah menunjukkan itikad baik untuk berdamai,” ujar Johannes Rettob, dengan nada yang lebih menekankan harapan ketimbang kemenangan.

Negara Hadir, Damai Diupayakan

Bupati Mimika menegaskan bahwa pemerintah mengambil tanggung jawab moral dan administratif untuk memastikan konflik tidak berlarut-larut. Bagi pemerintah daerah, perdamaian bukan sekadar penghentian kekerasan, tetapi pemulihan kepercayaan—antara warga, dan antara warga dengan negara.

Optimisme itu bukan tanpa dasar. Pemerintah berharap prosesi adat “belah kayu”, simbol rekonsiliasi dan penutupan konflik dalam budaya setempat, dapat segera dilaksanakan sebagai penanda resmi bahwa dendam tidak lagi diwariskan.

“Kami optimis perdamaian bisa tercapai dalam waktu dekat,” kata Bupati.
“Belah kayu bukan hanya seremoni, tetapi pesan moral: bahwa hidup bersama lebih penting daripada mempertahankan amarah.”

Dampak Sosial dan Seruan Kesabaran

Konflik di Kwamki Narama sebelumnya meninggalkan dampak sosial yang luas—rasa takut, pengungsian sementara, serta terganggunya aktivitas masyarakat. Karena itu, proses damai tidak hanya menyasar pelaku konflik, tetapi juga pemulihan psikologis warga yang terdampak.

Sekda Puncak Nenu Tabuni dalam kesempatan tersebut mengimbau masyarakat Puncak untuk menahan diri dan bersabar, menunggu seluruh tahapan perdamaian diselesaikan secara adat dan pemerintah sebelum kembali ke wilayah terdampak.

“Kesabaran hari ini adalah harga dari keamanan esok hari,” ujarnya.
“Jangan biarkan luka lama terbuka kembali hanya karena tergesa.”

Dari Konflik ke Kesadaran Bersama

Apa yang terjadi di Kwamki Narama menunjukkan bahwa konflik bukan takdir, melainkan persimpangan. Negara, melalui pemerintah daerah, memilih berdiri di tengah—bukan sebagai hakim, tetapi sebagai penjaga keseimbangan.

Di antara suara senjata yang telah mereda dan kata-kata damai yang mulai diucapkan, Mimika memberi pelajaran penting: perdamaian bukan berarti lupa, tetapi sepakat untuk tidak mengulangi.

Dan di tanah Papua, ketika kayu dibelah bukan untuk perang, melainkan untuk damai, sejarah pun memilih arah yang lebih manusiawi.

Example 300250