Scroll untuk baca artikel
Bupati  mimika
Hukum & KriminalKabupaten MappiKabupaten MimikaPeristiwa

Ketika Honai Perang Diruntuhkan: Negara Memutus Rantai Dendam di Kwamki Narama

189
×

Ketika Honai Perang Diruntuhkan: Negara Memutus Rantai Dendam di Kwamki Narama

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Perang tidak selalu berakhir saat senjata diturunkan. Kadang ia tinggal diam—di bangunan, di kebiasaan, di ingatan kolektif yang belum sembuh.

MIMIKA  |LINTASTIMOR.ID— Kamis pagi, 8 Januari 2026, suara excavator memecah sunyi Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama. Bukan untuk membuka jalan baru, melainkan menutup satu jalan lama—jalan menuju kekerasan.

Example 300x600

Satu per satu honai perang—bangunan semi permanen yang dahulu menjadi dapur, pos berkumpul, dan simbol konsolidasi saat konflik—diruntuhkan. Tanah Papua, yang selama ini memikul terlalu banyak luka, kembali menyaksikan upaya memutus lingkaran dendam.

Polres Mimika memilih langkah yang tidak populer, namun perlu: menghapus jejak fisik perang agar damai punya ruang tumbuh.

Bangunan-bangunan itu berdiri seperti ingatan yang membatu. Selama ia ada, perang seakan masih menunggu dipanggil kembali.

Perdamaian tidak akan tumbuh di tempat orang terus berkumpul untuk mengingat perang.
Karena itu, bangunan-bangunan ini harus diruntuhkan,
ujar Kabag Ops Polres Mimika, AKP Henri Alfredo Korwa.

Ia memimpin langsung pembongkaran tersebut. Lebih dari sepuluh bangunan semi permanen ditertibkan di wilayah kubu Newagelen—bukan sebagai tindakan represif, tetapi sebagai upaya pencegahan.

Bangunan itu, menurut polisi, dibangun dan difungsikan saat konflik berlangsung: tempat memasak, bermalam, dan merencanakan pergerakan. Seperti api kecil yang dibiarkan menyala di bawah abu, keberadaannya berpotensi memantik bentrok susulan.

Memadamkan Api, Menjaga Bara Kehidupan

Selain pembongkaran honai perang, Polres Mimika juga mendirikan tujuh pos pengamanan di kawasan konflik. Pos-pos itu bukan simbol kekuasaan, melainkan penanda kehadiran negara—agar warga tidak merasa sendirian di tengah trauma.

Kami menjaga agar situasi tetap aman dan terkendali,
dan memastikan masyarakat tidak kembali terprovokasi,
kata AKP Henri.

Hingga saat ini, aparat memastikan kondisi aman dan kondusif pasca penyekatan. Koordinasi terus dilakukan dengan pemerintah daerah dan instansi terkait, dengan satu tujuan: perdamaian yang tidak sekadar diucapkan, tetapi dirawat.

Luka yang Tidak Bisa Disembunyikan

Namun, perdamaian tidak datang tanpa harga. Konflik antar dua kubu di Kwamki Narama telah merenggut 10 nyawa warga, dan ratusan lainnya luka-luka akibat panah dan senjata tradisional. Angka-angka itu bukan statistik. Ia adalah ayah, anak, saudara—yang pulang dalam peti atau dengan tubuh yang tak lagi utuh.

Di sinilah pertanyaan penting muncul: siapa yang bertanggung jawab?

Bukan hanya mereka yang menarik busur panah, tetapi juga:

  • kegagalan resolusi konflik sejak dini,
  • minimnya ruang dialog adat,
  • dan lambannya kehadiran solusi sosial sebelum kekerasan meledak.

Meruntuhkan honai perang hanyalah langkah awal. Tugas berikutnya jauh lebih berat: meruntuhkan dendam, membangun kepercayaan, dan menyembuhkan trauma.

Merawat Damai, Bukan Sekadar Menjaga Aman

Jurnalisme damai menuntut lebih dari sekadar melaporkan penertiban. Ia menuntut pertanyaan lanjutan: apa setelah ini?

Perdamaian di Kwamki Narama hanya akan bertahan jika:

  • dialog adat difasilitasi secara berkelanjutan,
  • tokoh masyarakat dilibatkan secara aktif,
  • dan negara hadir tidak hanya dengan aparat, tetapi juga dengan pendidikan, ekonomi, dan rekonsiliasi sosial.

Excavator mungkin bisa merobohkan honai perang.
Namun hanya manusia yang bisa merobohkan dendam di dalam dirinya.

Di Kampung Amole, puing-puing bangunan kini berserakan.
Dan di atas tanah yang sama, harapan pelan-pelan dicoba ditanam kembali.

Karena Papua tidak kekurangan keberanian.
Ia hanya terlalu lama kekurangan damai yang dijaga bersama.

Example 300250