Di sebuah pagi yang tenang di Atambua, 903 harapan baru resmi dilepas menuju medan pengabdian. Bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan kesadaran sunyi bahwa menjadi aparatur negara adalah janji panjang kepada rakyat.
ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID–Di Gedung Wanita Betelalenok tidak sekadar menjadi ruang seremonial. Ia menjelma menjadi saksi lahirnya babak baru bagi 903 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di lingkungan Pemerintah Kabupaten Belu, Senin, 6 Januari 2026.
Di hadapan ratusan wajah yang menyimpan beragam cerita—tentang penantian, kegigihan, dan harapan—Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves, S.T, secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan. Sebuah dokumen tipis, namun sarat makna: legalitas, tanggung jawab, sekaligus sumpah tak tertulis untuk mengabdi dengan hati.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati tidak sekadar berbicara tentang administrasi dan jabatan. Ia mengingatkan bahwa SK yang diterima hari itu bukanlah hadiah, melainkan amanah besar.
“SK ini bukan akhir dari perjuangan, tetapi awal dari pengabdian. Disiplin, loyalitas, dan kinerja adalah fondasi utama bagi setiap ASN yang ingin benar-benar hadir untuk masyarakat,” ujarnya, dengan nada yang tenang namun tegas.
Pesan itu mengalir pelan, namun menghujam. Disiplin bukan hanya soal jam kerja, loyalitas bukan sekadar kepatuhan struktural, dan kinerja bukan angka di laporan tahunan. Ketiganya, dalam konteks pelayanan publik, adalah soal kejujuran, konsistensi, dan keberpihakan pada kepentingan rakyat kecil.
Pemerintah Kabupaten Belu menaruh harapan besar pada pengangkatan ini. Di tengah tantangan pelayanan publik yang kian kompleks, kehadiran 903 PPPK Paruh Waktu diharapkan menjadi energi baru—mendorong birokrasi yang lebih profesional, adaptif, dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar pengisian formasi, pengangkatan ini adalah upaya merawat keberlangsungan pelayanan negara di tapal batas. Sebab di wilayah seperti Belu, negara kerap hadir bukan melalui bangunan megah, melainkan lewat sikap ramah seorang pegawai, ketepatan layanan administrasi, dan kesungguhan melayani tanpa pamrih.
Hari itu, Gedung Betelalenok menjadi ruang pertemuan antara negara dan warganya—diwakili oleh 903 aparatur yang kini resmi menyandang status, sekaligus tanggung jawab.
Selamat mengabdi.
Karena di balik setiap SK, ada rakyat yang menunggu untuk dilayani dengan sepenuh hati.


















