Ketika Natal Menjadi Doa, dan Perbatasan Menjadi Rumah
ATAMBUA |LINTASTIMOR.ID|-Di perbatasan negeri, Natal tak pernah sekadar tanggal. Ia menjelma cahaya—seperti lilin kecil yang bertahan melawan angin, namun tak pernah padam. Senin malam, 5 Januari 2026, di Mako Satgas Pamtas RI–RDTL Sektor Timur Yonarmed 12 Kostrad, Kelurahan Umanen, Atambua Barat, perbatasan Indonesia–Timor Leste kembali menemukan maknanya: bukan sekadar garis geopolitik, melainkan ruang kemanusiaan.
Bupati Belu Willybrodus Lay, SH dan Wakil Bupati Belu Vicente Hornai Gonsalves, ST hadir bukan sebagai pejabat yang berpidato dari kejauhan, melainkan sebagai keluarga yang datang menghangatkan perayaan. Malam itu, Natal disirami doa, dan Tahun Baru dibingkai harapan—di antara prajurit yang menjaga batas negara, jauh dari pelukan orang tua dan anak-anak mereka.
“Saya dan Pak Wakil Bupati hadir di sini sebagai bagian dari keluarga, sebagai orang tua bagi seluruh prajurit Satgas Pamtas RI–RDTL,” ucap Bupati Willy Lay, suaranya tenang namun berisi.
“Walaupun merayakan Natal jauh dari orang tua dan keluarga, kehadiran kami adalah tanda kebersamaan dan perhatian.”
Kata-kata itu jatuh seperti embun pagi—sederhana, namun menyejukkan. Di hadapan para prajurit, Natal tak lagi terasa sunyi. Ia menjadi simfoni kecil tentang pengabdian, kesetiaan, dan kesabaran; tentang mereka yang memilih berjaga ketika orang lain merayakan.
Bupati Willy Lay tak hanya menyampaikan salam, tetapi juga penghormatan. Apresiasi disematkan kepada Satgas Pamtas RI–RDTL yang selama ini menjaga denyut keamanan perbatasan, sekaligus hadir di tengah masyarakat—membantu, mendengar, dan membangun bersama.
“Kami berterima kasih atas pengabdian para prajurit. Banyak kerja nyata yang telah dilakukan untuk masyarakat dan pemerintah daerah. Teruslah mengabdi dan berinteraksi dengan masyarakat,” katanya, tegas namun bersahaja.
Di luar pagar Mako, Kabupaten Belu merayakan Natal dan Tahun Baru dengan wajah yang tenang. Tak gegap gempita berlebihan, tak euforia yang melampaui batas. Bagi Bupati, kesederhanaan itu adalah tanda kedewasaan kolektif.
“Perayaan Natal dan Tahun Baru di Kabupaten Belu berjalan aman, tertib, penuh kesederhanaan dan sukacita. Ini cermin kebersamaan masyarakat kita,” ungkapnya.
Namun malam itu juga menatap masa depan. Perbatasan, kata Bupati, bukan halaman belakang republik. Ia adalah beranda—yang aman, damai, dan bermartabat. Bahkan, kelak, bisa menjadi ruang perjumpaan dunia.
“Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa perbatasan Indonesia–Timor Leste adalah salah satu yang paling aman di dunia,” ujarnya.
“Ke depan, kami rencanakan patroli bersama TNI dan UPF Timor Leste dengan konsep wisata patroli perbatasan. Secara administrasi negara kita berbeda, tetapi secara budaya dan kultural, kita satu.”
Seperti dua sungai yang bertemu di muara sejarah, Indonesia dan Timor Leste dipisahkan oleh garis, namun disatukan oleh darah budaya dan ingatan bersama. Di situlah perbatasan menemukan ruhnya.
Acara kemudian ditutup dengan pemberian bingkisan Natal—tanda kecil, namun bermakna besar. Bingkisan itu bukan sekadar barang, melainkan pesan: bahwa pengabdian tak pernah berjalan sendirian.
Malam semakin larut di Umanen. Namun lilin-lilin Natal masih menyala. Di perbatasan ini, doa-doa terus dipanjatkan—agar negeri tetap utuh, penjaga batas tetap kuat, dan kemanusiaan selalu menemukan jalannya.


















