Hari kesepuluh pencarian, Selat Padar akhirnya menyerahkan satu lagi rahasianya. Bukan suara, bukan sinyal—melainkan tubuh manusia yang diam, terapung, dan tak lagi bisa berbicara.
LABUAN BAJO |LINTASTIMOR.ID —
Pagi di Selat Padar, Minggu (4/1/2026), tak benar-benar sunyi. Ombak kecil berkejaran dengan cahaya matahari yang baru naik, seolah laut sedang membuka matanya perlahan. Di antara hamparan biru yang memesona wisatawan dunia, Tim SAR gabungan menemukan satu jenazah—korban kapal wisata yang tenggelam sepuluh hari lalu.
Pukul 08.46 Wita, tubuh itu terlihat mengapung. Diam. Tak melawan arus. Mengenakan celana berwarna oranye—warna yang seharusnya menandai keselamatan, namun kali ini menjadi penanda duka.
Jenazah pertama kali terlihat oleh tim KPC XX-II 2027 Ditpolairud Polda NTT saat melakukan penyisiran di sekitar perairan Pulau Padar. Dari kejauhan, ia tampak seperti benda hanyut biasa. Namun ketika didekati, laut kembali mengingatkan: ini bukan sekadar pencarian—ini adalah pengembalian martabat manusia.
Evakuasi dilakukan dengan kehati-hatian penuh, melibatkan RIB Basarnas, RIB Ditpolairud Polda NTT, serta speedboat KSOP. Tubuh korban kemudian dipindahkan ke KN SAR Puntadewa, sebelum akhirnya dibawa menuju Pelabuhan Marina Labuan Bajo—tempat laut dan darat saling berserah.
Menurut data Tim SAR, jenazah ditemukan pada koordinat 8°36’32.58″S – 119°36’32.22″E, atau sekitar 1,13 nautical mile dari lokasi tenggelamnya kapal. Jarak yang tak terlalu jauh di peta, namun terasa amat panjang bagi keluarga yang menunggu kabar dengan doa yang tak pernah putus.
Kepala Kantor SAR Maumere sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), Fathur Rahman, mengatakan bahwa jenazah selanjutnya akan dibawa ke RSUD Komodo untuk menjalani proses identifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polres Manggarai Barat.
“Kami berupaya agar setiap korban kembali kepada namanya, kembali kepada keluarganya. Pencarian ini bukan hanya tentang operasi, tapi tentang kemanusiaan,” ujar Fathur Rahman dengan nada tertahan.
Hingga hari kesepuluh operasi, dua korban telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara dua lainnya masih dalam pencarian. Laut masih menyimpan jawabannya. Dan Tim SAR, dengan sabar dan keteguhan, memilih untuk tetap percaya: setiap manusia berhak ditemukan, meski dalam diam.
Selat Padar hari ini kembali indah seperti biasa—biru, tenang, dan fotogenik. Namun di balik keindahan itu, laut telah menjadi saksi bahwa pariwisata, teknologi, dan manusia tetap tak berdaya di hadapan alam.
Pencarian akan terus berlanjut. Sebab bagi keluarga korban, harapan tak pernah benar-benar tenggelam—ia hanya menunggu untuk ditemukan.


















