Karang Taruna Mimika, Generasi yang Menantang Zaman dan Menjawab Indonesia Emas
MIMIKA |LINTASTIMOR.ID ——Di sebuah pagi yang belum sepenuhnya lepas dari embun, di Timika—tanah yang menyimpan denyut emas dan luka sosial sekaligus—anak-anak muda berkumpul bukan untuk bersorak, melainkan untuk berjanji. Janji pada waktu. Janji pada masyarakat. Janji pada masa depan.
Selasa, 30 Desember 2025, Karang Taruna Kabupaten Mimika menggelar Rapat Kerja I Pengurus Daerah Masa Bakti 2025–2030. Namun peristiwa ini bukan sekadar rapat tahunan yang berhenti pada lembaran notulensi. Ia menjelma menjadi titik mula sebuah ikrar kolektif: bahwa generasi muda Mimika tidak ingin lagi berjalan di pinggir sejarah.
Mengusung tema “Generasi Tangguh, Mandiri, dan Inklusif Menuju Indonesia Emas”, forum ini hadir sebagai ruang kontemplasi sekaligus arena perlawanan sunyi—melawan apatisme, melawan kemiskinan struktural, dan melawan kebiasaan menunda kerja nyata.
“Karang Taruna tidak boleh menjadi organisasi papan nama. Ia harus hidup di kampung-kampung, bernafas bersama rakyat, dan bekerja di ruang-ruang sosial yang paling sunyi,”
— Vincensius Opoka, Ketua Umum Karang Taruna Kabupaten Mimika
Ketika Anak Muda Menyentuh Masalah Sosial
Ketua Umum Karang Taruna Mimika, Vincensius Opoka, berbicara dengan nada tenang, namun sarat kegelisahan. Ia menyebut satu persoalan yang kerap luput dari perhatian: anak muda dan dunia digital—ruang yang bisa menjadi cahaya, namun juga jebakan.
Menurutnya, problem sosial di Mimika tidak lagi bersifat abstrak. Ia hadir nyata, berwujud, dan kadang tumbuh subur di layar-layar kecil yang tak terawasi. Di sinilah Karang Taruna diminta hadir, bukan sebagai hakim moral, melainkan pendamping sosial.
Sebagai langkah konkret, Opoka mengumumkan rencana besar: pembentukan struktur Karang Taruna yang menyeluruh hingga akar rumput—meliputi 18 distrik, seluruh kelurahan, hingga 133 kampung di Mimika. Setiap struktur akan dilengkapi surat tugas resmi, memuat tanggung jawab sosial yang jelas dan terukur.
Langkah ini bukan sekadar ekspansi organisasi, melainkan upaya menenun jaringan empati agar program tidak berhenti di pusat, tetapi benar-benar menyentuh mereka yang paling membutuhkan.
Negara Hadir, Tapi Anak Muda Harus Bekerja
Kehadiran Bupati Mimika, Johannes Rettob, memberi bobot tersendiri pada Rakor ini. Dengan nada tegas namun reflektif, ia mengingatkan bahwa Karang Taruna lahir dari semangat sosial, bukan ambisi politik.
“Semua anggaran Karang Taruna akan dikelola melalui Dinas Sosial. Karena sejak awal, organisasi ini dibentuk untuk kerja-kerja kemanusiaan,”
— Johannes Rettob, Bupati Mimika
Bupati menekankan pentingnya pendataan sosial yang akurat, bekerja sama dengan kelurahan, RT, dan elemen masyarakat lainnya. Bagi pemerintah daerah, data bukan sekadar angka, melainkan kompas kebijakan untuk menekan kemiskinan yang selama ini kerap menjadi perdebatan tanpa ujung.
Peraturan Bupati terkait pendataan telah disiapkan, selaras dengan arah pembangunan lima tahun ke depan. Namun, Rettob mengingatkan: regulasi tanpa kerja lapangan hanyalah teks mati.
Dari 30 Persen ke 80 Persen: Target yang Menantang Nurani
Pernyataan paling menggugah datang ketika Bupati menyebut angka: 80 persen. Target realisasi program Karang Taruna setiap tahun—lonjakan tajam dari capaian sebelumnya yang hanya berkisar 30 persen.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah tantangan moral.
“Delapan puluh persen bukan mimpi. Ia adalah ukuran keseriusan. Jika anak muda ingin dipercaya, maka hasil kerja harus bisa dilihat dan dirasakan,”
— Johannes Rettob
Tak berhenti di situ, Bupati juga mendorong Karang Taruna untuk merangkul lembaga agama dan organisasi kemasyarakatan. Karena kerja sosial, katanya, tak pernah berhasil jika berjalan sendiri.
Ia bahkan menyatakan akan memantau langsung kinerja Karang Taruna, sebagai bentuk dukungan sekaligus pengawasan—agar idealisme tidak tergerus rutinitas.
Di Ujung Rakor, Ada Harapan
Rakor itu akhirnya ditutup. Kursi-kursi kembali sunyi. Namun Mimika tak lagi sama. Karena di ruang itu, telah lahir sebuah tekad: menjadikan Karang Taruna bukan sekadar simbol kepemudaan, melainkan mesin perubahan sosial.
Target 80 persen bukan hanya soal capaian program. Ia adalah pernyataan sikap—bahwa generasi muda Mimika ingin mengambil peran, memikul tanggung jawab, dan menulis masa depan dengan tangan mereka sendiri.
Di tanah yang kaya sumber daya namun kerap miskin keadilan sosial, Karang Taruna kini berdiri di persimpangan sejarah:
menjadi catatan kaki—atau menjadi kalimat utama.
Dan Mimika, seperti biasa, menunggu dengan sabar.


















